Kaltim Gelar Salat Istisqa, Ikhtiar Hadapi Kemarau

  • 21 Agt 2026 10:30 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kemarau yang masih berlangsung di Kalimantan Timur mendorong pemerintah dan masyarakat memperkuat ikhtiar menghadapi keterbatasan air serta potensi kebakaran.

Salah satu ikhtiar tersebut dilakukan melalui salat Istisqa yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di Masjid Nurul Mu’minin, Jalan Gunung Arjuna, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, Jumat, 21 Agustus 2026 pagi.

Salat Istisqa merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk memohon turunnya hujan. Di saat yang sama, pemerintah tetap menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau.

Kepala Bagian Bina Mental Spiritual Biro Kesra Setda Provinsi Kaltim Muhammad Hamsani mengatakan, pelaksanaan salat Istisqa dilakukan mengikuti arahan pimpinan sebagai bentuk ikhtiar bersama menghadapi kondisi kemarau.

“Kami berharap melalui munajat pagi ini, hujan segera turun bagi warga Samarinda,” ujar Hamsani.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan, kemudian sambutan Staf Ahli Bidang III Puguh Harjanto mewakili Gubernur Kaltim. Setelah itu, imam memberikan pengarahan kepada jamaah mengenai tata cara pelaksanaan salat Istisqa.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan salat, khutbah, dan ditutup dengan saling bersalaman. Kegiatan tersebut diikuti jamaah sebagai bentuk doa bersama agar kondisi kemarau segera berakhir.

Namun, ikhtiar melalui doa tersebut berjalan beriringan dengan langkah pemerintah dalam menghadapi risiko yang muncul selama musim kering. Salah satunya berkaitan dengan kemunculan titik api di sejumlah wilayah Kaltim.

Staf Ahli Bidang III Puguh Harjanto mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan titik api dan memperkuat kesiapsiagaan bersama pemerintah kabupaten dan kota.

“Kita terus waspada terhadap titik api dan memperkuat kesiapsiagaan di lapangan bersama,” ujar Puguh.

Menurutnya, kesiapsiagaan melibatkan berbagai unsur, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan pemadam kebakaran. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota juga diperlukan agar potensi dampak kemarau dapat ditangani lebih cepat.

Selain mengantisipasi kebakaran, kebutuhan air masyarakat menjadi perhatian dalam kondisi kemarau. Karena itu, hujan yang diharapkan turun bukan hanya untuk membasahi lahan, tetapi juga membantu menjaga ketersediaan air.

Puguh mengajak pemerintah kabupaten dan kota turut melaksanakan salat Istisqa sebagai bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kondisi kemarau.

“Kami mengimbau seluruh kabupaten melaksanakan salat Istisqa sebagai ikhtiar bersama memohon hujan,” katanya.

Bagi pemerintah daerah, salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual di tengah kondisi alam yang membutuhkan kewaspadaan. Sementara kesiapsiagaan di lapangan tetap diperlukan untuk menghadapi risiko kebakaran dan persoalan ketersediaan air.

Dengan demikian, upaya menghadapi kemarau tidak hanya dilakukan melalui penanganan ketika dampak muncul. Pemerintah juga mendorong kewaspadaan dan koordinasi agar risiko yang lebih besar dapat dicegah sejak awal.

Pemprov Kaltim berharap doa dan langkah kesiapsiagaan dapat berjalan beriringan. Turunnya hujan diharapkan membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat sekaligus mengurangi kondisi kering yang meningkatkan potensi kebakaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....