Hari Orangutan Sedunia 2026, Menjaga Orangutan Berarti Menjaga Masa Depan Hutan

  • 20 Agt 2026 13:04 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samboja - Peringatan Hari Orangutan Sedunia 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa keberlangsungan orangutan tidak dapat dipisahkan dari kelestarian hutan sebagai habitatnya.

Melalui tema “Act for Orangutans: Their Forest, Our Future”, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) bersama Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, Taman Nasional Sebangau, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), serta berbagai mitra konservasi mengajak masyarakat mengambil aksi nyata untuk melindungi orangutan dan habitatnya.

Yayasan BOS menilai hutan tidak hanya menjadi rumah bagi orangutan, tetapi juga memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia, mulai dari menyediakan air bersih, menyimpan karbon, mengatur iklim hingga menjaga keanekaragaman hayati.

Orangutan juga memiliki peran ekologis sebagai penyebar biji secara alami. Keberadaan satwa ini membantu proses regenerasi hutan sehingga kelestarian orangutan dan kesehatan ekosistem hutan saling berkaitan.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur M. Ari Wibawanto mengatakan, orangutan hanya dapat bertahan apabila hutan tempat mereka hidup tetap terjaga. “Orangutan hanya dapat bertahan apabila hutan tempat mereka hidup tetap terjaga,” katanya, pada Kamis 20 Agustus 2026.

Menurut dia, perlindungan kawasan konservasi, pemulihan habitat, dan pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam upaya mempertahankan populasi orangutan. Tema “Their Forest, Our Future”, kata Ari, menunjukkan bahwa menjaga hutan sebagai habitat orangutan sekaligus berarti menjaga fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan BOS Jamartin Sihite menegaskan, tema Hari Orangutan Sedunia tahun ini bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk mengambil tindakan. Menurut Jamartin, proses penyelamatan orangutan membutuhkan waktu panjang. Rehabilitasi hingga pelepasliaran satwa dapat berlangsung bertahun-tahun, terutama bagi orangutan yang sebelumnya menjadi korban konflik atau kehilangan habitat. Namun, pelepasliaran bukan menjadi akhir dari upaya konservasi.

“Pelepasliaran bukanlah akhir. Kita harus memastikan hutan tetap ada, tetap sehat, dan tetap menjadi rumah bagi mereka,” ujarnya. Karena itu, Yayasan BOS mendorong keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga konservasi, akademisi, sektor swasta, masyarakat lokal hingga individu.

Masyarakat juga dapat mengambil peran melalui sejumlah tindakan sederhana, seperti tidak membeli atau memelihara satwa liar dilindungi, menjaga hutan, mendukung program konservasi yang bertanggung jawab, serta melaporkan aktivitas perdagangan satwa liar ilegal.

Melalui momentum Hari Orangutan Sedunia yang diperingati setiap 19 Agustus, Yayasan BOS berharap kepedulian terhadap orangutan tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi diwujudkan dalam tindakan untuk menjaga habitat dan ekosistemnya. Sebab, ketika hutan tetap terjaga, orangutan dapat terus menjalankan perannya dalam ekosistem, sementara manusia tetap memperoleh manfaat dari fungsi ekologis hutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....