Harga Pakan Melambung, Ayam Mengecil demi Jaga Daya Beli

  • 11 Agt 2026 07:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Gelombang pemicu aksi bagi-bagi ayam dan telur gratis oleh para peternak di berbagai daerah di Indonesia akibat lonjakan harga pakan mulai merembet ke pasar eceran Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa 11 Agustus 2026. Di Pasar Bengkuring, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, para pedagang harus memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan di tengah melambungnya modal pasokan dari distributor .

Isu lonjakan harga pakan ternak dari sentra produksi nasional berimbas langsung pada pasokan di tingkat hilir. Di Samarinda yang sebagian besar pasokan protein hewaninya bergantung pada jalur distribusi antarpulau, penyesuaian harga modal terjadi secara bertahap namun konsisten.

Salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Bengkuring, Ayu Wahyuni, mengungkapkan dampak kenaikan harga pakan di tingkat peternak sangat terasa pada kenaikan modal harian. Bahkan, modal naik bertahap rata-rata Rp2.000 per malam dari pihak distributor.

Untuk mengatasi situasi ini tanpa memicu resistensi pembeli, Ayu terpaksa menerapkan strategi shrinkflation, yakni menjual ayam dengan bobot yang lebih kecil agar harga eceran per ekor tetap terjangkau oleh daya beli masyarakat setempat.

"Kalau pelanggan maunya ayamnya besar tapi harganya murah. Padahal dari sananya modal naik terus Rp2.000 per malam. Makanya saya cari ayam yang bobotnya lebih kecil, dari yang biasanya 2,3 kilogram sekarang jadi 1,8 kilogram, supaya bisa tetap dijual di harga Rp55.000," ujar Ayu saat diwawancarai rri.co.id di lapaknya.

Ayu menjelaskan, batas psikologis harga jual ayam potong untuk kawasan pemukiman Bengkuring berada di kisaran Rp52.000 hingga Rp55.000 per ekor. Jika harga eceran menembus di atas Rp55.000, volume penjualan dipastikan merosot tajam. Harga di atas batas tersebut biasanya hanya bisa diserap pasar saat momen khusus seperti jelang Hari Raya Idulfitri atau Iduladha.

Kondisi lesunya daya beli dan penyesuaian modal ini diakui Ayu telah berlangsung cukup lama. "Sudah sekitar tiga bulan ini omzet terasa menurun, tepatnya sejak usai Iduladha lalu," katanya. Ia berharap harga modal dari distributor kembali turun agar keterjangkauan pembeli terjaga dan omzet pedagang kecil dapat pulih.

Sementara itu di komoditas telur ayam, kondisi pasokan di Pasar Bengkuring relatif stabil tanpa kendala distribusi. Namun, lonjakan harga jual di tingkat eceran tak terelakkan.

Pedagang telur di Pasar Bengkuring, Lilis, memaparkan saat ini telur ayam ras dijual pada kisaran Rp48.000 hingga Rp50.000 per rak, tergantung tingkatan ukurannya.

"Kalau masalah pasokan dari distributor atau peternak lancar saja, tidak ada kendala. Tapi memang harganya lagi tinggi naik dibanding sebelumnya," ucap Lilis.

Meski komoditas telur merupakan kebutuhan pokok yang tetap dibeli masyarakat, Lilis menyebut kenaikan harga ini memicu keluhan, terutama dari kelompok pembeli yang berprofesi sebagai pedagang makanan olahan atau pemilik warung makan.

"Pembeli tetap beli karena butuh, tapi pasti mengeluh. Terutama pedagang makanan masak, mereka dilema karena harga bahan bakunya naik sementara harga porsi makanan yang dijual ke konsumen sulit untuk ikut dinaikkan," katanya.

Kondisi di Pasar Bengkuring Samarinda ini mempertegas bahwa lonjakan harga pakan ternak di tingkat hulu berdampak ganda di tingkat konsumen akhir kawasan timur Indonesia: pedagang terpaksa memangkas bobot komoditas demi menjaga daya beli, sementara pelaku usaha kuliner skala mikro makin tertekan oleh biaya bahan baku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....