Umat Hindu di Samarinda Rayakan Kuningan, Simbol Kembalinya Leluhur ke Kayangan
- 27 Jun 2026 14:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Suasana khidmat mewarnai Pura Jagat Hita Karana, Jalan Sentosa, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Samarinda pada Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 09.00 Wita. Sejumlah Umat Hindu di Kota Tepian memadati pura untuk melaksanakan persembahyangan Hari Raya Kuningan, yakni penutup rangkaian Galungan yang diperingati sepuluh hari sebelumnya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, I Putu Suberata, mengatakan Hari Raya Kuningan mengandung makna kembalinya Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Ida Bhatara, dan roh leluhur ke kayangan setelah sebelumnya turun memberikan berkah serta perlindungan kepada umat saat Hari Raya Galungan.
Adapun saat Galungan, umat Hindu telah melalui tahapan yang dikenal sebagai tiga kala atau tiga godaan yang harus dilewati. Tiga godaan tersebut dimulai pada Hari Minggu, Senin, dan Selasa atau tiga hari sebelum Galungan.
"Kita bisa melewati godaan-godaan kemarin berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, saat inilah beliau-beliau kembali untuk melindungi kita ke istananya di surga. Makanya enggak mungkin kita sudah dibantu, tetapi tidak bertatap muka istilahnya," ucap Putu, menjelaskan.

Di samping kembalinya leluhur ke alam suci, menurut Putu, Hari Raya Kuningan juga mengajarkan umat agar selalu mempersiapkan bekal dalam menjalani kehidupan. Hal itu tercermin dari persembahyangan Kuningan yang sarat akan makna simbolis.
Salah satunya adalah andong atau tempat bekal yang diisi umbi-umbian, buah, dan jajanan sebagai lambang bahwa manusia harus memiliki bekal dalam menjalani kehidupan.
"Bekal itu bukan hanya materi. Pikiran juga harus tajam dan hati harus tetap baik. Karena itu umat berkumpul sembahyang bersama agar memiliki kekuatan dan semangat dalam menjalani kehidupan," kata Putu.
Selain bekal yang kuat, ia menuturkan setiap umat harus memiliki tameng dan senjata untuk menghadapi segala tantangan kehidupan di dunia. Putu mengibaratkan tameng sebagai ajaran agama yang menjadi perisai diri manusia. Sementara, senjata bagaikan otak, emosi, dan moral.
"Tameng kami itu bundar. Bundar menghadap kesembilan penjuru kita di dalam ajaran agama Hindu itu Dewata Nawa Sanga atau Dewa yang melindungi. Lalu otak perlu kita asah sebagai senjata. Moral, emosi kita kekang supaya jangan kita tumpul dalam pikiran," ujarnya.
Melalui peringatan Hari Raya Kuningan ini, ia pun berharap umat Hindu tak sekadar menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....