Bukan SPMB, Sekolah Rakyat Rekrut Siswa lewat Sistem Penjangkauan Keluarga Miskin
- 21 Jun 2026 12:46 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 Samarinda tidak membuka penerimaan peserta didik baru melalui mekanisme Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) seperti sekolah pada umumnya. Calon siswa direkrut melalui sistem penjangkauan yang menyasar langsung keluarga sasaran berdasarkan data nasional.
Hal itu diungkapkan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah. Pasalnya, hingga kini masih banyak masyarakat yang penasaran mengenai cara mendaftarkan anak ke Sekolah Rakyat.
"Yang banyak tidak diketahui masyarakat itu bagaimana cara masuk Sekolah Rakyat. Di Sekolah Rakyat tidak ada PPDB atau SPMB. Yang ada adalah penjangkauan data," ujarnya usai kegiatan Open House SRT 58 Samarinda di Jalan Erry Suparjan, Kelurahan Sempaja Selatan, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sasaran Sekolah Rakyat merupakan anak-anak dari keluarga yang telah terdata secara nasional dalam kategori tertentu, termasuk kelompok desil satu dan desil dua. Setelah data tersebut diterima daerah, Dinas Sosial akan melakukan penjangkauan langsung ke rumah-rumah warga.
Dalam proses itu, petugas akan memastikan apakah terdapat anak usia sekolah yang belum bersekolah atau berisiko putus sekolah. Jika ditemukan, keluarga akan diberikan penjelasan dan didorong untuk mendaftarkan anaknya ke Sekolah Rakyat.
"Mereka didatangi dan ditanya apakah ada anak usia sekolah yang tidak sekolah. Kalau ada, akan diarahkan dan dibujuk untuk masuk Sekolah Rakyat," kata Rabiatul.
Menurutnya, tidak semua keluarga langsung menerima tawaran tersebut. Masih ada orang tua yang memilih anaknya membantu pekerjaan keluarga dibanding melanjutkan pendidikan.
Karena itu, proses penjangkauan menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak dari keluarga rentan tetap memperoleh akses pendidikan yang layak.
Di sisi lain, ia mengakui masih ada masyarakat yang merasa layak menjadi sasaran program, tetapi belum pernah didatangi petugas. Kondisi itu umumnya disebabkan data kependudukan yang belum diperbarui.
"Kadang mereka merasa tidak pernah diperhatikan. Rupanya setelah dicek ternyata kartu keluarganya masih terdaftar di provinsi lain karena pindah-pindah domisili dan belum mengurus administrasi kependudukan," ucap Rabiatul.
Ia pun menyarankan warga yang mengalami kondisi tersebut untuk segera berkoordinasi dengan kelurahan setempat agar data kependudukan dapat diperbarui sesuai domisili saat ini.

Sementara itu, pada tahun ajaran baru mendatang, Rabiatul mengungkapkan, seluruh siswa Sekolah Rakyat di Kalimantan Timur direncanakan akan dikumpulkan di kompleks Sekolah Rakyat permanen yang berada di Palaran. Namun, skema pelaksanaannya masih dalam tahap pembahasan.
Untuk kuota penerimaan tahun ini, lanjutnya, Sekolah Rakyat permanen disiapkan menampung tujuh rombongan belajar (rombel) yang terdiri atas tiga rombel SD, dua rombel SMP, dan dua rombel SMA.
Jumlah siswa dalam setiap rombongan belajar juga ditambah dari sebelumnya 25 orang menjadi 30 orang per kelas.
"Tahun ini satu rombel menjadi 30 siswa. Nanti seluruh siswa akan dikumpulkan di Sekolah Rakyat permanen di Palaran, meskipun mekanisme detailnya masih dalam penggodokan," kata Rabiatul, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....