Jumlah Lansia Lampaui Balita, BKKBN Kaltim Minta Perhatian
- 08 Jun 2026 11:59 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Perubahan struktur penduduk mulai menjadi tantangan baru yang perlu diantisipasi pemerintah daerah. Di tengah fokus pembangunan pada anak dan generasi muda, jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dan bahkan telah melampaui jumlah bayi dan balita.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto, mengingatkan bahwa peningkatan populasi lansia harus menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan angka ketergantungan penduduk, layanan kesehatan, hingga kesiapan keluarga dalam merawat anggota keluarga usia lanjut.
Hal itu disampaikan saat Kick Off Pelayanan KB dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di Gedung PKK Kota Samarinda, Senin, 8 Juni 2026.
“Jumlah lansia hari ini lebih besar dibanding jumlah bayi dan balita. Ini menjadi tantangan yang harus kita siapkan sejak sekarang,” ujarnya.
Menurut Sunarto, meningkatnya jumlah lansia merupakan konsekuensi positif dari meningkatnya kualitas kesehatan dan harapan hidup masyarakat. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga memerlukan strategi baru agar kelompok lansia tetap sehat, mandiri, dan produktif.
Ia menjelaskan salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah angka ketergantungan penduduk. Semakin besar jumlah penduduk usia nonproduktif, semakin besar pula beban yang harus ditanggung kelompok usia produktif.
Karena itu, pendekatan pembangunan keluarga tidak lagi hanya berfokus pada anak dan remaja, tetapi juga harus mencakup kelompok lanjut usia. Lansia perlu diberdayakan agar tetap aktif beraktivitas, memiliki ruang sosial, dan mampu menjaga kualitas hidupnya.
“Lansia harus berdaya. Lansia harus mandiri. Jangan sampai mereka menjadi kelompok yang hanya bergantung kepada keluarga,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BKKBN mendorong pengembangan Sekolah Lansia yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan kemandirian warga lanjut usia. Program ini memberikan edukasi mengenai kesehatan, aktivitas sosial, hingga penguatan mental dan spiritual bagi lansia.
Sunarto menilai keberadaan sekolah lansia menjadi penting karena jumlah penduduk usia lanjut diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Jika tidak dipersiapkan sejak sekarang, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan sosial dan ekonomi di masa depan.
Selain itu, lansia yang sehat dan aktif juga dapat tetap berkontribusi dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki menjadi modal sosial yang berharga dalam mendukung pembangunan keluarga berkualitas.
“Lansia bukan beban pembangunan. Mereka tetap memiliki potensi yang bisa diberdayakan dan menjadi kekuatan dalam keluarga maupun masyarakat,” ucapnya.
Melalui penguatan program pemberdayaan lansia, BKKBN berharap masyarakat semakin siap menghadapi perubahan struktur penduduk sekaligus mewujudkan keluarga yang tangguh di setiap fase kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....