Perbaikan Rumah dan Sanitasi di Kaltim Dinilai Efektif Cegah Stunting
- 08 Jun 2026 11:41 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Samarinda tidak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan bergizi dan intervensi kesehatan. Persoalan lingkungan dan kualitas tempat tinggal keluarga masih menjadi faktor penting yang harus dibenahi untuk memutus rantai stunting secara berkelanjutan.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto, menilai berbagai program pemerintah yang saat ini berjalan, seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), telah memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Namun, penyebab stunting tidak hanya berasal dari faktor kekurangan gizi.
Hal itu disampaikan Sunarto saat menghadiri Kick Off Pelayanan KB dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di Gedung PKK Kota Samarinda, Senin, 8 Juni 2026.
“Stunting itu faktor penyebabnya bukan hanya nutrisi. Ada faktor non-nutrisi yang juga menjadi persoalan kita,” ujarnya.
Menurut Sunarto, sejumlah faktor non-gizi yang masih menjadi tantangan di masyarakat antara lain rumah tidak layak huni (RTLH), akses air bersih yang terbatas, serta keberadaan jamban yang belum memenuhi standar kesehatan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan anak, sehingga berkontribusi terhadap munculnya kasus stunting.
Ia menjelaskan pemerintah pusat maupun daerah sebenarnya telah menyiapkan berbagai program pendukung untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya melalui program pembangunan dan rehabilitasi rumah layak huni yang dijalankan lintas kementerian dan pemerintah daerah.
Di Kalimantan Timur sendiri, pemerintah provinsi telah mengalokasikan bantuan perbaikan ratusan unit rumah tidak layak huni yang tersebar di kabupaten dan kota. Program tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas hidup keluarga yang masuk kategori rentan.
“Tinggal kita menggeser intervensi pada perbaikan rumah tidak layak huni, membantu akses air bersih, dan membantu jamban yang tidak sehat,” katanya.
Sunarto menegaskan keberhasilan menurunkan angka stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya melibatkan instansi kesehatan, tetapi juga perangkat daerah yang menangani perumahan, sanitasi, air bersih, hingga pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, target mewujudkan Generasi Emas 2045 hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak memiliki visi yang sama dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga sejak dini.
“Kata kuncinya ada pada kolaborasi. Jika semua pihak bergerak dalam visi yang sama, maka upaya membangun generasi unggul akan lebih mudah diwujudkan,” ucapnya.
Ia optimistis percepatan penurunan stunting di Samarinda dan Kalimantan Timur dapat tercapai apabila intervensi yang dilakukan tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga menyentuh faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi tumbuh kembang anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....