Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim Operasikan 24 Intake Jaga Pasokan Air Bersih

  • 31 Mei 2026 21:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Kutai Timur - Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Tuah Benua (Perumdam TTB) Kutai Timur terus memperkuat sistem penyediaan air baku guna memastikan layanan air bersih bagi masyarakat tetap berjalan optimal.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengoperasikan 24 unit intake yang tersebar di sejumlah wilayah pelayanan. Keberadaan fasilitas pengambilan air baku tersebut menjadi komponen penting dalam menjaga kelancaran distribusi air bersih, terutama saat menghadapi perubahan kondisi alam seperti fluktuasi debit sungai hingga potensi banjir.

Direktur Teknik Perumdam TTB Kutim, Galuh Boyo Munanto, menjelaskan seluruh intake yang saat ini beroperasi menggunakan berbagai jenis konstruksi yang disesuaikan dengan karakteristik sumber air di masing-masing lokasi.

“Total ada 24 unit intake yang kami operasikan, terdiri dari 12 unit ponton atau terapung, lima unit jembatan, enam unit sumuran, dan satu unit bronkaptering,” ujarnya pada Minggu 31 Mei 2026.

Menurut Galuh, pemilihan tipe intake dilakukan berdasarkan kondisi teknis di lapangan agar operasional pengambilan air baku dapat berlangsung efektif dan aman. Intake model ponton menjadi salah satu pilihan yang dinilai paling adaptif karena mampu mengikuti perubahan tinggi muka air sungai.

Dengan sistem terapung, posisi intake dapat bergerak mengikuti naik turunnya permukaan air sehingga proses pengambilan air baku tetap berjalan optimal sepanjang tahun. Salah satu penerapan sistem tersebut berada di Intake Kudungga. Fasilitas itu menggunakan teknologi floating yang memungkinkan alat pengambil air menyesuaikan elevasi permukaan sungai secara otomatis.

“Untuk intake yang menggunakan sistem ponton, perubahan elevasi air tidak terlalu menjadi masalah karena konstruksinya ikut bergerak mengikuti level air. Ini yang membuat operasionalnya lebih fleksibel,” katanya.

Sementara itu, untuk intake tipe sumuran yang bersifat permanen, Perumdam TTB Kutim melakukan perencanaan berdasarkan data historis ketinggian muka air. Langkah tersebut bertujuan meminimalkan risiko gangguan operasional ketika terjadi peningkatan debit sungai saat musim hujan.

Pengalaman menghadapi banjir besar pada 2022 juga menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan dalam memperkuat sistem mitigasi risiko. Saat itu, dua unit intake terpaksa dihentikan sementara untuk menjaga keamanan instalasi dan peralatan. “Saat banjir ekstrem tahun 2022 lalu ada dua intake yang harus kami shutdown selama sekitar 42 hingga 72 jam,” ujar Galuh.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....