Buku Siswa Samarinda Jadi Simbol Kebangkitan Literasi

  • 22 Mei 2026 14:54 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda- Suasana berbeda tampak dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda. Tidak hanya dipenuhi semangat refleksi kebangsaan, momentum tersebut juga menghadirkan optimisme baru melalui lahirnya karya buku hasil tulisan guru, kepala sekolah hingga siswa sekolah dasar.

Kegiatan Launching Karya dan Berbagi Praktik Baik Pendidikan yang digelar di Aula Lantai 4 Disdikbud Samarinda, Jum'at, 22 Mei 2026 menjadi ruang apresiasi bagi tumbuhnya budaya literasi di lingkungan pendidikan Kota Tepian.

Salah satu yang menarik perhatian ialah hadirnya karya buku dari SDN 007 Samarinda Ulu. Tidak hanya guru dan kepala sekolah, para siswa sekolah dasar juga berhasil menulis dan menerbitkan karya mereka sendiri.

Bunda Literasi Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun mengaku bangga melihat semangat anak-anak Samarinda yang mulai berani menuangkan ide dan imajinasinya melalui tulisan.

“Ada rasa kebanggaan sendiri bagi saya melihat anak-anak Kota Samarinda ini luar biasa, bisa menciptakan berbagai karya buku. Bahkan guru sendiri tidak mudah membuat buku,” ujarnya.

Menurut Rinda, menulis bukan sekadar menyusun kata demi kata, melainkan ruang bagi anak untuk mengekspresikan gagasan, emosi dan imajinasi yang dimiliki.

Ia menilai budaya literasi harus terus ditanamkan sejak dini karena membaca dan menulis mampu membangun rasa percaya diri sekaligus membuka cara pandang anak terhadap masa depan.

“Menulis itu bukan hanya sekadar menulis, tapi juga mengeluarkan inspirasi yang ada di kepala dan mengembangkan kemampuan yang ada di dalam diri anak,” katanya.

Rinda juga menyebut buku sebagai investasi masa depan. Menurutnya, setiap buku yang hadir bukan hanya kumpulan halaman, tetapi jendela ilmu, ruang imajinasi dan sumber inspirasi bagi generasi muda.

Ia berharap gerakan literasi di Samarinda tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi budaya yang hidup di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.

“Saya berharap parcel buku yang diserahkan hari ini tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar menjadi budaya membaca di rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat,” ucapnya.

Rinda juga mengingatkan pentingnya peran guru sebagai penggerak budaya literasi. Di tengah perkembangan teknologi dan tantangan dunia digital, sekolah dinilai harus mampu menciptakan ruang kreatif agar anak tetap dekat dengan buku dan pengetahuan.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi turut mengapresiasi lahirnya karya buku dari lingkungan sekolah. Menurutnya, menghasilkan karya tulis hingga menjadi buku bukan perkara mudah, terlebih melibatkan guru dan siswa dalam satu sekolah.

“Ini kegiatan yang luar biasa. Tidak mudah menghasilkan karya, tidak mudah menghasilkan buku, apalagi lahir dari satu sekolah mulai kepala sekolah, guru hingga siswa,” ujarnya.

Politikus PKS tersebut berharap praktik baik literasi dari SDN 007 Samarinda Ulu dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Samarinda agar semakin banyak siswa dan guru berani berkarya.

“Kita berharap praktik baik ini bisa menular ke sekolah-sekolah lain. Bagaimana sekolah memfasilitasi guru maupun siswa menghasilkan karya yang bisa dinikmati orang banyak,” katanya.

Melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional, gerakan literasi di Samarinda kini tidak lagi hanya berbicara soal membaca buku, tetapi juga tentang keberanian anak-anak menuliskan mimpi, gagasan dan harapan mereka untuk masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....