Hampir 90 Persen Remaja Terpapar Narkoba Karena Pergaulan

  • 19 Mei 2026 19:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Tanah Merah Samarinda menilai lingkungan pergaulan masih menjadi faktor terbesar yang mendorong remaja terpapar narkoba maupun penyalahgunaan obat-obatan tertentu.

Kepala Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah Samarinda Bambang Styawan mengatakan, sebagian besar kasus penyalahgunaan zat pada usia remaja berawal dari ajakan teman sebaya dan keinginan diterima dalam lingkungan pergaulan.

“Kalau kami lihat dari hasil asesmen dan rehabilitasi, hampir 90 persen itu karena pengaruh lingkungan pertemanan,” katanya dalam kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT dan Peran APBN dalam Pengawasan OOT di Aula Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Samarinda, Selasa 19 Mei 2026.

Menurut Bambang, banyak remaja awalnya tidak memiliki niat menggunakan narkoba maupun obat tertentu. Namun rasa ingin tahu, tekanan kelompok dan keinginan dianggap “solid” dalam pergaulan membuat mereka akhirnya mencoba.

“Awalnya hanya ikut-ikutan teman nongkrong. Lama-lama jadi kebiasaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengaruh lingkungan saat ini semakin kuat karena didukung media sosial dan budaya digital yang membuat tren penyalahgunaan zat lebih cepat menyebar.

Remaja disebut dapat dengan mudah menemukan informasi mengenai jenis obat, efek penggunaan hingga cara memperoleh zat tertentu melalui internet dan komunitas digital.

Bambang menilai, kondisi tersebut membuat pengawasan keluarga menjadi semakin penting.

“Sekarang bukan hanya lingkungan fisik, tetapi lingkungan digital juga sangat memengaruhi anak-anak,” katanya.

Menurutnya, perubahan perilaku remaja sering kali menjadi tanda awal keterpaparan penyalahgunaan zat.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain perubahan emosi yang drastis, mulai menarik diri dari keluarga, perubahan pola tidur, penurunan prestasi hingga pergaulan yang semakin tertutup.

Namun Bambang mengatakan, banyak orang tua terlambat menyadari perubahan tersebut karena menganggapnya bagian biasa dari fase remaja.

“Kadang ketika ketahuan, kondisinya sudah cukup jauh,” ucapnya.

Ia menilai, pencegahan penyalahgunaan narkoba dan OOT tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum maupun pemerintah.

Sekolah, keluarga dan lingkungan sosial disebut memiliki peran yang jauh lebih besar dalam membentuk ketahanan remaja terhadap pengaruh negatif.

Karena itu, BNN Tanah Merah Samarinda terus memperkuat program edukasi dan sosialisasi ke sekolah-sekolah serta komunitas pemuda.

Bambang berharap remaja memiliki ruang pergaulan yang sehat dan kegiatan positif agar tidak mudah terjerumus dalam penyalahgunaan zat.

“Anak-anak ini sebenarnya butuh diterima. Kalau lingkungannya sehat, peluang mereka terpapar juga lebih kecil,” katanya.

Ia juga meminta masyarakat tidak langsung menghakimi remaja yang terpapar narkoba, melainkan mendorong pendekatan rehabilitasi dan pemulihan.

Menurutnya, banyak pengguna usia muda sebenarnya merupakan korban lingkungan dan kurangnya pengawasan sosial.

“Kita harus menyelamatkan mereka sebelum kehilangan masa depannya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....