Data GKK Indonesia Ungkap Konten Edukasi Masih Kalah dari Konten Viral

  • 11 Mei 2026 12:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Parade Webinar “Etam Kayuh Bebaya” juga memaparkan hasil analisis internal GKK Indonesia terhadap perilaku guru kreator konten. Data itu diangkat untuk menggambarkan tantangan etika dan kualitas konten pendidikan di media sosial.

Ketua Umum GKK Indonesia, Mardimpu Sihombing, menjelaskan survei dilakukan terhadap 118 guru kreator konten. Hasilnya menunjukkan masih banyak aspek dasar yang belum dipahami secara utuh.

Sebanyak 63 persen responden pada tahap awal disebut belum memahami etika konten. Sementara 71 persen lainnya belum memahami monetisasi konten secara benar dan bertanggung jawab.

“Ini menunjukkan ruang digital pendidikan masih membutuhkan penguatan kapasitas. Banyak guru masuk ke media sosial, tetapi belum semuanya dibekali pemahaman etika yang memadai,” kata Mardimpu.

Mardimpu juga menyoroti persoalan izin penggunaan dokumentasi murid. Pada tahap awal, hanya 18 persen guru yang tercatat meminta izin, meski setelah pelatihan peningkatan kapasitas angka itu naik menjadi 58 persen.

Data konten viral dan konten edukasi yang diberikan pemateri. (foto: GKK Indonesia)

Dari sisi substansi, hanya 34 persen konten yang benar-benar berisi pembelajaran. Sementara konten candaan atau konten yang mengejar viralitas justru mencapai 27 persen, sedangkan konten viral edukatif hanya 12 persen.

“Prestasi murid di tingkat internasional kadang tidak viral. Tetapi konten konflik murid dan guru bisa menyebar sangat cepat. Ini yang harus kita ubah bersama,” ujarnya pada Sabtu 9 Mei 2026.

Mardimpu mendorong guru mulai membangun strategi konten yang berangkat dari praktik baik di sekolah. Menurut dia, pembiasaan harian di lingkungan pendidikan dapat diolah menjadi konten edukatif yang relevan, inspiratif, dan tetap berpijak pada etika profesi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....