Tantangan Pengelolaan Masjid Kian Kompleks di Era Digital
- 26 Agt 2026 07:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Masjid didorong tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan, pendidikan, pemberdayaan, dan penguatan kehidupan sosial masyarakat. Gagasan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Nasional Tata Kelola Masjid 2026 di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Selasa 25 Agustus 2026.
Mengusung tema “Penguatan Fungsi Masjid bagi Kemajemukan Indonesia: Transformasi dan Inovasi Masjid Berkelanjutan”, kegiatan ini menjadi wadah untuk menyamakan persepsi dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan masjid. Sarasehan juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi masjid di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center (BPIC), Irianto Lambrie, mengatakan Indonesia memiliki jumlah masjid yang sangat besar. Namun, jumlah tersebut perlu diimbangi dengan tata kelola yang semakin profesional agar masjid mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan masyarakat.
“Jumlah masjid kita sangat besar, lebih dari 800 ribu masjid, belum termasuk musala. Namun, yang menjadi perhatian adalah bagaimana masjid-masjid tersebut dapat dikelola dengan baik sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada umat Islam dan masyarakat,” ujar Irianto melansir rilis Pemprov Kaltim.
Menurut Irianto, pengelolaan masjid menghadapi tantangan dari sisi internal maupun eksternal. Kesenjangan antargenerasi, pola manajemen yang masih tradisional, serta keterbatasan sumber daya manusia menjadi sejumlah persoalan internal. Sementara itu, perubahan perilaku jamaah, meningkatnya kajian secara daring, persaingan konten digital, hingga isu keamanan dan radikalisme menjadi tantangan eksternal yang perlu diantisipasi.
Karena itu, pengurus masjid dituntut mampu melakukan transformasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Tujuh unsur tata kelola yang ditekankan dalam sarasehan meliputi visi dan misi yang jelas, manajemen organisasi, upaya memakmurkan masjid, pemeliharaan sarana dan prasarana, transparansi keuangan, pelayanan kepada jamaah, serta digitalisasi tata kelola.
Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ustaz Muhammad Ichsan Salam dari Badan Wakaf Al-Qur'an, KH Muhammad Taufik Bajaber dari Masjid Al Falah Surabaya, KH Khusnadi Ikhwan dari Masjid Al Falah Sragen, dan Rektor UINSI Samarinda Prof. Dr. Zurqoni. Melalui kegiatan ini, pengelolaan masjid diharapkan semakin profesional, adaptif, dan inovatif sehingga mampu menjadi ruang yang memperkuat kemaslahatan masyarakat secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....