Siaga Api, Samarinda Perkuat Antisipasi Musim Kemarau Panas

  • 08 Mei 2026 10:48 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Samarinda dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Topik ini menjadi pembahasan dalam Dialog Kentongan Pro 1 RRI Samarinda yang mengangkat tema “Siaga Api, Antisipasi Musim Kemarau Panas”, menyusul prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran bangunan maupun lahan apabila tidak diantisipasi sejak dini oleh pemerintah dan masyarakat.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kota Samarinda, Hendra AH, mengatakan peningkatan suhu udara menjadi salah satu faktor yang memicu naiknya kasus kebakaran di Samarinda sepanjang April 2026. Beberapa kejadian kebakaran tercatat terjadi di kawasan permukiman hingga tempat usaha, seperti kebakaran kios makanan di Jalan Pramuka, kebakaran permukiman di Jalan Lambung Mangkurat, serta kebakaran lahan di kawasan Air Hitam.

Menurut Hendra, sebagian besar kebakaran masih dipicu oleh kelalaian manusia atau human error. Instalasi listrik yang tidak sesuai standar, kabel semrawut, hingga penggunaan stop kontak bertumpuk menjadi penyebab dominan kebakaran bangunan di Kota Tepian. “Kebakaran ini sebagian besar disebabkan oleh kelalaian manusia. Banyak instalasi listrik di rumah yang tidak lagi sesuai standar dan kurang diperhatikan masyarakat,” ujarnya pada Jumat 8 Mei 2026.

Selain faktor listrik, kebiasaan membakar sampah dan lahan saat musim kemarau juga dinilai sangat berbahaya. Disdamkartan mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena api dapat dengan mudah merambat ke permukiman warga, terutama saat cuaca panas dan angin kencang terjadi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda, Ahmad Suprianto, juga mengatakan pihaknya telah menyiagakan 11 posko pemadam di seluruh kecamatan guna mempercepat penanganan kebakaran. Ia menyebut respon cepat menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kebakaran agar tidak meluas ke bangunan lain.

“Jadi untuk kejadian kebakaran, tim akan berusaha bisa mencapai lokasi dalam waktu kurang dari 10 menit untuk penanganan segera sehingga api tidak sempat merambat,” kata Ahmad Suprianto. Ia menambahkan standar nasional waktu tanggap kebakaran maksimal 15 menit, namun di Samarinda upaya percepatan terus dilakukan melalui penyebaran posko di berbagai wilayah.

Dalam menghadapi musim kemarau, Disdamkartan juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan penanganan awal kebakaran secara sederhana. Melalui program Probebaya, warga RT didorong memiliki alat pemadam portable dan mendapatkan pelatihan penggunaan APAR maupun teknik pemadaman tradisional menggunakan karung basah.

Tak hanya menyasar orang dewasa, edukasi kebencanaan juga diberikan kepada anak-anak usia dini. Disdamkartan rutin menerima kunjungan siswa TK dan SD untuk mengenalkan bahaya kebakaran serta cara penanganannya. Program sosialisasi juga dilakukan ke sekolah-sekolah menengah melalui simulasi dan pelatihan penanggulangan kebakaran.

Dalam dialog tersebut, masyarakat juga menyoroti kesiapan penanganan kebakaran di gedung bertingkat serta keberadaan hidran di kawasan permukiman. Menanggapi hal itu, Disdamkartan memastikan pemeriksaan gedung bertingkat dilakukan secara berkala, termasuk pengecekan pompa kebakaran, alarm asap, hingga sistem hidran untuk memastikan seluruh fasilitas berfungsi saat keadaan darurat.

Disdamkartan Kota Samarinda berharap meningkatnya kesadaran masyarakat dapat menekan angka kebakaran selama musim kemarau tahun ini. Pemerintah mengingatkan warga untuk lebih waspada terhadap penggunaan listrik, tidak membakar sampah sembarangan, serta segera melapor ke petugas apabila menemukan potensi kebakaran di lingkungan sekitar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....