Berau Genjot Produksi Jagung Hibrida 2026
- 27 Apr 2026 19:25 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Berau - Pemerintah Kabupaten Berau kembali menggenjot produksi jagung melalui penyaluran bantuan benih pada 2026. Di tengah tren penyusutan lahan tanam, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau tetap melanjutkan program tersebut dengan mengandalkan benih jagung hibrida.
Fungsional Analis Pasar Hasil Pertanian DTPHP Berau, Wono Nugroho, mengatakan bantuan tahun ini bersumber dari APBN dan difokuskan pada benih hibrida yang dinilai memiliki produktivitas lebih tinggi.
“Memang tahun ini belum ada bantuan benih komposit. Namun ada benih jagung hibrida dari APBN. Saat ini masih dalam proses, estimasinya masuk ke Berau pada Mei,” ujarnya.
Program tersebut ditargetkan menjangkau lahan seluas 1.569 hektare yang tersebar di lebih dari 40 kampung. Penyaluran akan dilakukan melalui kelompok tani berdasarkan usulan yang telah diverifikasi.
Wono menjelaskan, peralihan ke benih hibrida menjadi langkah strategis untuk mengejar peningkatan hasil panen. Dengan pengelolaan yang tepat, varietas ini diyakini mampu memberikan produktivitas lebih tinggi dibandingkan jenis konvensional.
Namun di sisi lain, tantangan di lapangan tidak kecil. DTPHP mencatat adanya penurunan luas tanam di sejumlah wilayah, terutama akibat alih fungsi lahan. “Kami melihat langsung di lapangan, ada penurunan luasan tanam karena alih fungsi lahan. Meski begitu, di beberapa titik juga ada pembukaan lahan baru,” katanya.
Persoalan lain yang belum teratasi adalah keterbatasan sarana pascapanen. Minimnya alat pengering membuat kualitas jagung kerap menurun, terutama saat cuaca tidak bersahabat.
“Petani masih sangat membutuhkan dryer atau alat pengering. Ini penting untuk menjaga kualitas hasil panen,” ujarnya. Untuk menutup celah tersebut, DTPHP Berau mengandalkan pendampingan intensif dari petugas penyuluh lapangan (PPL), mulai dari proses budidaya hingga pascapanen.
Dengan kombinasi benih unggul dan pendampingan teknis, pemerintah daerah berharap produksi jagung tetap bisa tumbuh. Meski demikian, faktor eksternal seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan kondisi iklim masih menjadi variabel krusial. “Kalau tidak ada serangan hama dan tidak terjadi kekeringan, kami optimistis hasilnya bisa lebih baik,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....