Kasus Pelajar SMP Terpapar HIV Jadi Alarm Serius Perlindungan Remaja Samarinda

  • 14 Apr 2026 20:33 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Kasus pelajar tingkat SMP yang terpapar HIV di Kota Samarinda menjadi alarm serius bagi semua pihak. Fenomena ini menegaskan bahwa perilaku seks berisiko di kalangan remaja bukan lagi isu tersembunyi, melainkan ancaman nyata yang membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani, mengatakan persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan yang bersifat memaksa. Ia menilai karakter generasi muda saat ini menuntut strategi edukasi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

“Remaja ini tidak bisa dipaksa. Yang bisa kita lakukan adalah edukasi terus-menerus,” ujar Deasy, Selasa 14 April 2026 di Samarinda.

Menurutnya, kompleksitas tantangan remaja saat ini semakin meningkat, mulai dari pengaruh pergaulan, akses informasi digital tanpa filter, hingga maraknya praktik prostitusi daring. Kondisi ini memperbesar risiko perilaku menyimpang yang berujung pada ancaman kesehatan, termasuk penularan HIV.

Sebagai langkah konkret, DPPKB mengandalkan Forum Generasi Berencana (Genre) sebagai garda terdepan dalam edukasi. Melalui pendekatan konselor sebaya, para remaja didorong untuk saling mengingatkan serta berbagi pemahaman di lingkungan mereka.

“Kalau kami yang mendekati, kadang mereka tidak mau. Tapi kalau sesama remaja, itu lebih bisa diterima,” ucapnya.

Forum Genre sendiri mengusung gerakan “3 Zero”, yakni nol narkoba, nol seks bebas, dan nol perkawinan usia dini. Para anggotanya dibekali pelatihan khusus agar mampu menjadi konselor sekaligus agen perubahan di kalangan pelajar.

Namun demikian, Deasy menegaskan bahwa hasil dari upaya edukasi tersebut tidak dapat dicapai secara instan. Tingkat keberhasilan sangat bergantung pada kesadaran individu remaja dalam menerima dan menerapkan informasi yang diberikan.

“Masalahnya apakah mereka mau mendengarkan atau tidak. Tapi edukasi tidak boleh berhenti,” katanya, menegaskan.

Di tengah keterbatasan anggaran, DPPKB Samarinda tetap berupaya menjaga keberlangsungan program pencegahan melalui berbagai strategi. Di antaranya pemanfaatan media sosial, kolaborasi dengan organisasi masyarakat, Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Tim Penggerak PKK melalui program “Goes to School”.

Langkah kolaboratif tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam membentuk perilaku sehat remaja.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan generasi muda tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif orang tua, pendidik, dan masyarakat luas agar upaya pencegahan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....