Kejar Target 17,2 Persen, Kaltim Perkuat Strategi Lokus Stunting
- 08 Apr 2026 12:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan strategi berbasis fokus lokasi prioritas (lokus) untuk mempercepat penurunan stunting menuju target 17,2 persen pada 2027.
Strategi tersebut disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya yang menunjukkan perlunya pendekatan lebih terarah dan berbasis kemampuan anggaran daerah. Dengan jumlah balita stunting yang masih mencapai 20.041 anak per Januari 2026, intervensi dinilai harus lebih tajam dan efektif.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Kaltim, Berlin Friniko Sihaloho, kepada rri.co.id Rabu 8 April 2026 menegaskan pendekatan ke depan tidak lagi menyebar secara merata, melainkan difokuskan pada wilayah-wilayah dengan prioritas penanganan tertinggi. Hal ini dilakukan agar keterbatasan anggaran dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Strateginya kita fokus. Dengan dana terbatas, kita tidak lagi menyasar semua wilayah, tetapi memilih lokus prioritas agar hasilnya lebih maksimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penentuan lokus dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kasus stunting, kesiapan intervensi, serta dukungan sumber daya di wilayah tersebut. Pendekatan ini juga diharapkan mampu mempercepat dampak nyata terhadap penurunan angka stunting.
Selain itu, strategi pembangunan manusia yang disiapkan juga mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia di lapangan, termasuk tenaga pendamping dan pelaksana program di tingkat daerah. Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memastikan keberhasilan intervensi.
Berlin menambahkan, fokus lokus juga akan diintegrasikan dengan program lintas sektor, seperti layanan kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan sosial. Dengan demikian, penanganan stunting tidak hanya bersifat sektoral, tetapi menyentuh berbagai aspek yang memengaruhi tumbuh kembang anak.
Sebagai OPD perencana, Bappeda Kaltim berperan dalam memastikan sinkronisasi program antarperangkat daerah agar tidak terjadi tumpang tindih. Koordinasi ini dinilai krusial untuk menjaga efektivitas pelaksanaan di lapangan.
Dari sudut pandang masyarakat, strategi berbasis lokus diharapkan mampu menghadirkan intervensi yang lebih terasa langsung, terutama di wilayah dengan risiko tinggi stunting. Pemerataan layanan dasar seperti akses gizi, sanitasi, dan kesehatan menjadi fokus utama dalam pendekatan ini.
Dengan strategi yang lebih terarah dan kolaboratif, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimistis target prevalensi stunting 17,2 persen pada 2027 dapat dicapai, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....