Damkar Samarinda Imbau Warga Tak Tangani Ular secara Mandiri Demi Keselamatan
- 02 Apr 2026 18:59 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat agar tidak nekat menangani ular secara mandiri tanpa pengetahuan dan perlengkapan yang memadai. Imbauan ini disampaikan menyusul adanya insiden relawan yang dipatuk ular berbisa akibat prosedur keselamatan yang tidak dijalankan dengan benar.
Kepala Dinas Damkar Samarinda, Hendra AH, menegaskan bahwa penanganan ular, khususnya jenis berbisa seperti kobra, memiliki risiko tinggi jika dilakukan tanpa keahlian khusus. Ia menyebut keberanian saja tidak cukup untuk menghadapi hewan berbahaya tersebut.
“Sering kali orang hanya bermodal berani, padahal itu tidak cukup. Harus pakai alat seperti stick grab dan perlengkapan pelindung. Kalau pakai tangan langsung, risikonya sangat tinggi,” ujarnya Kamis 2 April 2026 di Samarinda.
Menurut Hendra, kejadian relawan yang dipatuk ular menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Dalam kasus tersebut, korban diketahui tidak menggunakan alat pengaman saat mencoba menangkap ular, sehingga meningkatkan risiko fatal.
Ia menjelaskan bahwa penanganan hewan berbahaya seperti ular merupakan bagian dari layanan penyelamatan atau animal rescue yang menjadi tugas Damkar. Karena itu, keterlibatan relawan tetap diperlukan, namun harus berada dalam koordinasi yang jelas dengan petugas resmi.
“Relawan boleh membantu, tapi jangan bergerak sendiri. Harus koordinasi dengan Damkar agar penanganannya aman,” katanya.
Sebagai upaya meningkatkan pemahaman, Damkar Samarinda bersama Info Taruna Samarinda (ITS) menggelar sosialisasi penanganan hewan berbahaya. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Posko 1 Dinas Damkar Samarinda di Jalan Mulawarman dan diikuti sekitar 70 relawan.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai jenis-jenis ular berbisa, teknik evakuasi yang aman, hingga penanganan awal terhadap korban gigitan ular. Selain itu, dijelaskan pula tentang perbedaan racun ular dan pentingnya penanganan medis, termasuk penggunaan serum anti bisa secara tepat.
Hendra menambahkan, masyarakat sebenarnya tidak perlu mengambil risiko saat menemukan ular di lingkungan sekitar. Ia mengimbau warga untuk segera melapor kepada petugas Damkar agar penanganan dilakukan secara profesional.
Ia juga menyarankan agar warga menjaga jarak dari lokasi ditemukannya ular dan menutup area tersebut guna mencegah pergerakan hewan. Langkah ini dinilai penting untuk menghindari potensi bahaya yang lebih besar.
“Kalau ada ular, jangan ditangani sendiri. Foto saja, kirim ke call center kami. Tim langsung bergerak ke lokasi,” katanya.
Dengan adanya sosialisasi ini, Damkar berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga kejadian serupa tidak terulang. Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan hewan berbahaya di lingkungan permukiman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....