Lebih Dua Ribu Jemaah Padati Salat Idul Fitri Muhammadiyah di Samarinda

  • 20 Mar 2026 07:50 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Langit mendung menggantung sejak pagi, namun tak setetes hujan pun turun di kawasan Lapangan Parkir Kompleks GOR Kadrie Oening Sempaja, Jumat 20 Maret 2026. Suasana justru terasa teduh dan nyaman, mengiringi kedatangan jemaah yang mulai memadati lokasi sejak pukul 06.00 WITA.

Udara pagi yang sejuk seolah menjadi pelengkap kekhusyukan ribuan umat Islam yang datang berbondong-bondong untuk menunaikan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Wajah-wajah penuh syukur dan haru tampak di antara jemaah yang saling menyapa dan bersalaman. Mereka datang dari berbagai penjuru Kota Samarinda, membawa sajadah, bersama keluarga, dan harapan untuk menutup Ramadan melalui Salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.

Pelaksanaan salat ini merujuk pada maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat 20 Maret 2026. Di tengah adanya potensi perbedaan penetapan hari raya, Muhammadiyah tetap mengedepankan syiar Islam berkemajuan sekaligus menjaga ukhuwah Islamiyah.

Seperti tahun sebelumnya, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Samarinda Utara kembali menggelar salat di kawasan GOR Kadrie Oening. Namun tahun ini terasa lebih semarak. Hamparan jemaah memenuhi hampir seluruh area lapangan parkir, menciptakan lautan manusia yang khusyuk dalam balutan busana terbaik mereka.

Di tengah ribuan jemaah, sejumlah pejabat tampak hadir membaur tanpa sekat. Di antaranya Kepala Bidang Pemuda Dispora Provinsi Kalimantan Timur Rasman Rading, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Samarinda H. Muslimin, serta Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim Darlis Pattalongi.

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Samarinda Utara, Ustaz Taufiq Rahman, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang hadir. Ia mengaku jumlah jemaah tahun ini melampaui perkiraan panitia.

“Alhamdulillah pagi hari ini kita melaksanakan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di lapangan parkir GOR Kadrie Oening Sempaja. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh jemaah yang telah memenuhi lokasi ini,” ujarnya.

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Samarinda Utara, Ustaz Taufiq Rahman. (Foto: RRI/Niswar)

Ia menekankan bahwa momentum Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi juga ruang memperkuat silaturahmi dan persaudaraan, terutama di tengah adanya perbedaan penetapan hari raya.

“Jika ada hal-hal yang berbeda dengan kita, maka kita sikapi dengan arif dan bijaksana. Kita harus menekankan toleransi, karena masih ada saudara-saudara kita yang hari ini berpuasa. Mari kita hormati,” katanya.

Menurut Taufiq, jumlah jemaah yang hadir diperkirakan mencapai lebih dari 2.000 orang. Angka tersebut bahkan melampaui jumlah naskah khutbah yang disiapkan panitia.

“Dibandingkan tahun lalu, alhamdulillah tahun ini membeludak sekali. Kami hanya menyiapkan sekitar 1.500 teks khutbah, ternyata jemaah jauh lebih banyak. Ini menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan umat,” ucapnya.

Ia berharap nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi terus hidup dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Ukhuwah islamiyah harus kita perkuat, solidaritas sosial harus kita pertajam agar masyarakat di sekitar kita mendapatkan manfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Imam sekaligus khatib Ustaz Prof. Rahmat Soe’oed mengangkat tema “Taqwa sebagai Kunci Keberkahan Hidup Seorang Muslim”. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dari kemampuan menjaga diri dari berbagai larangan.

Ia menyebut, selama Ramadan umat Islam telah dilatih untuk menahan diri dari dusta, pertengkaran, hingga perbuatan zalim. Namun tantangan sesungguhnya adalah menjaga nilai-nilai tersebut setelah Ramadan berlalu.

“Kita mampu menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal saat berpuasa. Maka seharusnya kita lebih mampu meninggalkan yang jelas-jelas dilarang setelah Ramadan,” ucapnya.

Imam sekaligus khatib Ustaz Prof. Rahmat Soe’oed. (Foto: RRI/Niswar)

Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung berbagai persoalan moral yang masih terjadi di tengah masyarakat, mulai dari penyalahgunaan amanah hingga praktik ketidakjujuran di berbagai sektor kehidupan.

Ia mengingatkan agar setiap amanah yang diberikan tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi. Menurutnya, godaan materi kerap membuat manusia lupa pada nilai dan tanggung jawab moral.

“Jangan sampai amanah yang diberikan justru disalahgunakan. Uang sering membuat kita lupa diri, bahkan lupa kepada Tuhan,” katanya.

Usai salat, suasana berubah menjadi hangat. Jemaah saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan perlahan meninggalkan lokasi dengan hati yang lebih lapang. Di bawah langit mendung yang teduh, Idul Fitri terasa bukan hanya sebagai penanda kemenangan, tetapi juga awal baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....