BMKG Ingatkan Potensi Karhutla saat Kemarau Mulai Mengering
- 06 Mar 2026 10:17 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Memasuki periode musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai. Kondisi cuaca yang lebih kering serta berkurangnya intensitas hujan dapat memicu munculnya titik panas di sejumlah wilayah.
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita mengingatkan bahwa lahan gambut menjadi area yang paling rentan mengalami kebakaran saat musim kemarau berlangsung.
“Biasanya pada musim kemarau perlu diwaspadai lahan-lahan gambut yang menjadi wilayah hotspot atau titik panas yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya kepada rri.co.id, Jumat 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, meskipun curah hujan tidak sepenuhnya berhenti saat musim kemarau, intensitasnya akan jauh lebih sedikit dibandingkan musim hujan. Kondisi ini menyebabkan tanah menjadi lebih kering dan mudah terbakar, terutama pada kawasan gambut.
Menurutnya, kewaspadaan terhadap potensi karhutla perlu dilakukan sejak dini dengan memantau perkembangan titik panas serta menjaga ketersediaan air di sejumlah wilayah rawan.
Saat ini, upaya pencegahan karhutla telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca guna meningkatkan potensi hujan untuk menjaga kelembapan lahan.
Namun untuk wilayah Kalimantan Timur, Carolina menyebut kondisi tersebut masih berada pada tahap pemantauan. Hingga saat ini daerah tersebut belum masuk dalam kategori wilayah dengan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Untuk Kalimantan Timur sendiri belum masuk dalam kategori waspada sehingga belum ada tindakan mitigasi seperti modifikasi cuaca,” ucapnya.
Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tetap mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Upaya pencegahan dinilai penting agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal musim kemarau.
Kesiapsiagaan bersama menjadi kunci untuk meminimalkan dampak kebakaran hutan dan lahan, terutama dalam menjaga kualitas udara, ekosistem hutan, serta aktivitas masyarakat di wilayah sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....