Polusi Rumah Tangga Picu Risiko Stunting

  • 21 Feb 2026 10:55 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kalimantan Timur terus digencarkan. Namun, intervensi gizi dinilai belum cukup tanpa diimbangi perbaikan kualitas lingkungan rumah tangga yang sehat.

Hal tersebut disampaikan Sanitarian Ahli Pratama UPTD Puskesmas Bantuas, Laliyanto, dalam program “Indonesia Sehat” Pro 1 RRI Samarinda, Kamis 19 Februari 2026. Ia menekankan bahwa polusi udara dalam ruang atau indoor air pollution menjadi salah satu faktor tersembunyi yang jarang disadari orang tua sebagai pemicu stunting.

Menurutnya, anak yang sering terpapar asap rokok, asap dapur tanpa ventilasi memadai, maupun polutan rumah tangga lainnya berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan berulang. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan nafsu makan dan terganggunya penyerapan nutrisi.

"Seringkali orang tua fokus pada makanan mahal, tapi lupa bahwa di dalam rumah ada paparan asap rokok atau ventilasi yang buruk. Anak yang sering menghirup udara tidak sehat akan mudah terkena infeksi pernapasan. Saat anak sakit, nafsu makannya turun dan nutrisinya tidak terserap maksimal. Jika ini berulang, anak jatuh ke kondisi stunting," ujarnya.

Selain polusi udara, Lalianto juga menyoroti potensi kontaminasi logam berat dan residu pestisida melalui air serta bahan makanan. Ia mengingatkan pentingnya memperhatikan jarak tangki septik dengan sumber air bersih minimal 10 hingga 11 meter guna mencegah pencemaran bakteri koli penyebab diare.

Ia menambahkan, air yang tampak jernih belum tentu aman dikonsumsi. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan tidak adanya kandungan mikrobiologi berbahaya maupun logam berat seperti besi dan kadmium.

"Kami menemukan di lapangan, banyak warga yang menganggap air bening itu sudah pasti sehat. Padahal, air yang terlihat bersih secara fisik bisa saja mengandung bakteri mikrobiologi atau kadar logam berat seperti besi dan kadmium yang tinggi jika tidak diperiksa secara laboratorium," ucapnya.

Sebagai langkah pencegahan, ia mengajak para ibu untuk merebus kembali air galon atau air isi ulang hingga mendidih sebelum dikonsumsi balita. Cara sederhana tersebut dinilai efektif menjaga keamanan air minum bagi anak yang sistem imunnya masih rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....