Antisipasi Bencana di Kaltim Jadi Fokus Perhatian

  • 06 Feb 2026 06:44 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Antisipasi bencana di awal tahun 2026 menjadi fokus perhatian di Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Mahakam Ulu, Kutai Barat, dan Paser. Curah hujan tinggi sejak awal Januari meningkatkan risiko banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur.

Pendengar RRI dari Kabupaten Paser, Ridwan, menekankan pentingnya penyusunan master plan penanggulangan bencana di tiap kabupaten. “Yang perlu dipetakan bukan hanya lokasi rawan banjir, tapi juga hunian sementara, air bersih, energi, dan makanan,” ujar Ridwan dalam program Halo RRI, dikutip Jumat 6 Februari 2026.

Ridwan menambahkan, kesiapan fasilitas dasar di lokasi bencana sangat krusial. “Kalau terjadi banjir, tanah longsor, atau hujan lebat, pemerintah harus memastikan basecamp atau huntara siap dengan energi, air, dan makanan. Ini kunci agar masyarakat tetap aman,” katanya.

Baca juga: BPBD Kutai Barat Antisipasi Banjir Kiriman Hulu Mahakam

Ia juga mengingatkan perlunya pembangunan infrastruktur jalan di desa-desa terpencil. “Akses jalan yang buruk membuat penanganan bencana menjadi lambat. Setiap kampung seharusnya mudah dijangkau, terutama jika harus mengangkut bantuan atau evakuasi warga,” ucapnya.

Menanggapi masukan tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kutai Barat, Bambang Pramudito, memastikan pemetaan titik rawan bencana sudah dilakukan. “Kami sudah menyusun peta kawasan rawan bencana (KRB) pada 2025 dan ditetapkan oleh bupati. Peta ini menjadi dasar kami turun langsung ke lapangan,” ujar Bambang.

Bambang menambahkan, masukan dari masyarakat seperti perubahan kualitas air dan akses jalan akan menjadi prioritas perbaikan. “Daerah yang infrastruktur jalannya kurang baik, seperti Derayak dan Lemper, akan kita dorong agar aksesnya lebih baik. Kesulitan menjangkau wilayah saat bencana harus diminimalkan,” katanya.

Baca juga: Waspadai Potensi Banjir Mahakam Ulu dan Kutai Barat

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mahakam Ulu, Agus Darmawan, menegaskan kesiapan peralatan kebencanaan yang diterima dari pemerintah provinsi. “Speedboat, perahu evakuasi, dan ambulans terapung sudah berada di Mahakam Ulu dan siap digunakan penuh dalam operasi BPBD,” ujar Agus.

Agus menambahkan, jalur evakuasi telah dipetakan di lima kecamatan, dan rencana simulasi akan dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. “Simulasi ini agar warga mengetahui titik evakuasi aman saat banjir terjadi, terutama di kecamatan Long Pange dan Long Apar,” katanya.

Dengan koordinasi antara pemerintah, BPBD, dan masukan masyarakat, upaya mitigasi bencana di Kalimantan Timur diharapkan lebih optimal, mulai dari hulu hingga hilir sungai, serta memperkuat kapasitas tanggap darurat di desa-desa terpencil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....