Warga Kutai Barat Soroti Potensi Bencana di Kaltim
- 06 Feb 2026 06:33 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Potensi bencana di awal tahun 2026 menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat Kalimantan Timur. Kabupaten Mahakam Ulu dan Kutai Barat masuk wilayah rawan bencana, terutama banjir dan kebakaran, seiring tingginya curah hujan pada Januari ini.
Pendengar Halo Kaltim, Hanyek dari Barong Tongkok, menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari mitigasi bencana. “Kami berharap pemerintah segera membangun akses jalan ke kampung-kampung. Kalau terjadi musibah, sementara jalannya buruk, kita tidak bisa sewa helikopter setiap saat,” ujar Hanyek kepada RRI, dikutip Jumat 6 Februari 2026.
Ia juga menekankan perlunya dukungan peralatan penanggulangan kebakaran di tingkat desa. “Setiap kampung sebaiknya memiliki alat pemadam kebakaran. Uangnya disimpan di bank, tapi harus digunakan untuk melindungi masyarakat,” katanya.
Baca juga: Kondisi Banjir Berulang Jadi Sorotan Serius Warga Samarinda
Selain itu, Hanyek menyoroti masalah kualitas air yang kerap memburuk saat musim hujan. “Ada kampung di mana air menghitam dan ikan mati. Pemerintah dan BPBD harus memetakan masalah ini dan turun langsung ke desa untuk menanggulangi dampaknya,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kutai Barat, Bambang Pramudito, menekankan pihaknya melakukan pemantauan terus-menerus terhadap sungai dan kantong air. “Air sungai saat ini belum terlalu tinggi dan kantong air masih terkendali, tapi kami terus memantau informasi dari BMKG. Jika perlu, status siaga bencana akan segera ditingkatkan,” ujar Bambang.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mahakam Ulu, Agus Darmawan, memastikan seluruh peralatan bantuan dari pemerintah provinsi sudah siap digunakan. “Peralatan seperti speedboat, perahu evakuasi, dan ambulans terapung sudah diintegrasikan ke rencana operasi BPBD dan siap digunakan penuh,” ujar Agus.
Baca juga: BPBD Kutai Barat Antisipasi Banjir Kiriman Hulu Mahakam
Agus menambahkan, jalur evakuasi juga sudah dipetakan untuk lima kecamatan, sehingga masyarakat mengetahui titik aman saat banjir terjadi. “Jalur evakuasi sudah kami simulasikan dalam dokumen rencana penanganan bencana. Tahun ini akan kita lakukan simulasi agar masyarakat lebih siap,” katanya.
Masyarakat dihimbau tetap waspada dan mengikuti arahan resmi BPBD serta BMKG. Langkah-langkah mitigasi sejak hulu hingga hilir, pengawasan tata ruang, dan penyediaan peralatan kebencanaan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana, tanpa menghambat pembangunan daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....