Wagub Ungkap Tantangan Kaltim Sebagai Daerah Mitra IKN

  • 26 Jan 2026 17:40 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur yang dikenal kaya sumber daya alam (SDA) masih menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari kerusakan infrastruktur, layanan dasar yang belum merata, hingga angka kemiskinan yang belum sebanding dengan kontribusi ekonomi daerah. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam peran Kaltim sebagai daerah mitra Ibu Kota Nusantara (IKN).

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji dalam Diskusi Panel bertema “IKN Sebagai Tonggak Kemajuan Indonesia: Format dan Peran Strategis Kaltim Sebagai Daerah Mitra IKN” di Ruang Tepian I Kantor Gubernur Kaltim, Senin, 26 Januari 2026.

Seno Aji memaparkan, dengan luas wilayah sekitar 127 ribu kilometer persegi dan kekayaan lahan hutan, sawit, serta sumber daya alam lainnya, Kaltim seharusnya memiliki infrastruktur dan kualitas layanan publik yang jauh lebih baik.

"Faktanya, jalan provinsi yang rusak berat masih sekitar 98 kilometer, rusak ringan 68 kilometer. Jalan nasional bahkan ada sekitar 100 kilometer yang rusak berat," kata Wagub.

Tak hanya masalah jalan, layanan dasar seperti air bersih juga belum merata. Cakupan layanan air minum di Kaltim saat ini baru mencapai 83 persen, sedangkan tingkat sanitasi air berada di angka 84 persen.

Di samping itu, angka putus sekolah juga masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. "Makanya kita benar-benar memperhatikan sumber daya manusia (SDM). Kita akan membuat SDM kita bangkit. Karena itu kita buatkan program gratispol seperti yang sudah kita jalankan saat ini," kata Seno Aji.

Masalah ketenagakerjaan juga masih menjadi pekerjaan rumah. Sebab, tingkat pengangguran terbuka di Kaltim berada di angka 5,3 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.

Tantangan Kaltim sebagai daerah mitra IKN juga tak lepas dari sektor ekonomi makro. Pasalnya, Seno Aji mengakui pertumbuhan ekonomi Kaltim belum sesuai dengan harapan. "Target kita adalah 5,5 persen tapi sampai sampai saat ini laju pertumbuhan ekonomi kita di angka 4,35 persen. Artinya, kita melihat bahwa penurunan ekonomi di Kalimantan Timur sangat terasa," ucap Wagub.

Ia menilai, belum maksimalnya pertumbuhan ekonomi Kaltim disebabkan oleh ketergantungan daerah terhadap batu bara. Saat harga batu bara turun di pasar global, penerimaan daerah ikut menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah juga ikut tertekan.

Meski demikian, menurut Seno Aji, Kaltim mencatatkan capaian positif pada kualitas sumber daya manusia. Hal ini terbukti dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berada di angka 79,39.

"Artinya apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah tahun 2025 dengan memberikan kesehatan gratis, pendidikan gratis kepada masyarakat ternyata sudah bisa dilihat oleh Badan Pusat Statistik untuk menaikkan indeks pembangunan manusia kita," kata dia.

Namun, lanjut Seno Aji, persoalan kemiskinan masih menjadi catatan penting. Sebab, tingkat kemiskinan di Kaltim saat ini berada di angka 5,17 persen.

Meski lebih rendah dari rata-rata nasional yang berada di atas 8 persen, angka tersebut dinilai belum sebanding dengan posisi Kaltim sebagai salah satu penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar nasional.

"Kita ini peringkat tujuh PDRB nasional, tapi tingkat kemiskinan masih di atas lima persen. Harapannya pada 2028 bisa ditekan hingga empat persen,” ujarnya.

Seno Aji pun menegaskan, tantangan-tantangan tersebut menjadi alasan mengapa Kaltim harus melakukan transformasi menyeluruh, baik pada infrastruktur, ekonomi, maupun kualitas manusia, agar benar-benar siap menjadi penyangga utama IKN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....