Tren Global Adiksi Naik, Badan PBB Urusan Narkoba Ingatkan Daerah

  • 26 Jan 2026 10:50 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menyoroti tren peningkatan penyalahgunaan narkotika secara global yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan menuntut peningkatan kualitas penanganan di tingkat daerah.

Hal tersebut disampaikan Programme Officer UNODC Indonesia, Narendra Narotama, saat menjadi narasumber dalam Training on Treatnet Motivation Interviewing and Cognitive Behavioral Therapy yang digelar Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) Provinsi Kalimantan Timur di Kota Samarinda, Senin 26 Januari 2026.

Narendra mengatakan, berdasarkan World Drug Report UNODC yang dirilis setiap tahun, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan jumlah pengguna narkotika di dunia.

“Dalam 10 tahun terakhir, secara global terjadi peningkatan sekitar 28 persen, baik dari jumlah pengguna, tingkat kecanduan, maupun jenis narkotika yang beredar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, laporan tersebut disusun dari data seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Indonesia yang secara rutin menyampaikan laporan melalui Badan Narkotika Nasional (BNN). Menurutnya, kondisi yang terjadi di Samarinda dan Kalimantan Timur merupakan bagian dari persoalan global yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Narendra menilai, dinamika penyalahgunaan narkotika terus mengalami pergeseran seiring munculnya jenis-jenis zat baru yang menimbulkan tantangan dalam penanganannya. “Respon praktisi tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama, karena tren dan jenis kecanduan juga terus berubah,” ucapnya.

Ia juga menyinggung munculnya penyalahgunaan zat lain di luar kategori narkotika, seperti gas nitrous oxide yang belakangan disalahgunakan untuk mencari sensasi sesaat. Menurutnya, meskipun belum seluruhnya diatur dalam regulasi, dampak kesehatan yang ditimbulkan sangat berbahaya. “Bukan hanya zatnya, tetapi perilaku mencari sensasi yang berisiko inilah yang perlu mendapat perhatian serius,” katanya.

Dalam konteks penanganan adiksi, UNODC merekomendasikan pendekatan berbasis bukti ilmiah. “UNODC merekomendasikan tiga pendekatan utama, yakni motivational interviewing dan cognitive behavioral therapy, terapi keluarga, serta contingency management,” ujar Narendra.

Ia berharap, pelatihan selama lima hari ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para peserta untuk memperkuat kapasitas konselor di daerah.

“Semakin berkualitas sumber daya manusia, maka semakin baik pula program rehabilitasi dan pencegahan yang bisa dilakukan,” ucapnya.

Pelatihan yang berlangsung hingga 30 Januari 2026 ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan penyalahgunaan zat adiktif yang kian kompleks di Kalimantan Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....