Kisah Ramadan hingga Lebaran Perantau di Bandung
- 18 Mar 2026 15:44 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu menghadirkan cerita yang berbeda di setiap daerah di Indonesia. Dalam Program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda kembali menghadirkan kisah inspiratif dari berbagai penjuru Indonesia. Kali ini Yakhsya yang akrab di sapa Yaksa, yang berbagi cerita tentang pengalamannya menjalani Ramadan hingga menyambut Lebaran sebagai perantau di Bandung, Jawa Barat.
Yaksa merupakan mahasiswa magister hukum di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selain menempuh pendidikan, ia juga aktif sebagai imam tetap di masjid lingkungan Kementerian ESDM serta dikenal sebagai pendakwah muda. Meski kini tinggal di Bandung, Yaksa berasal dari Lampung dengan latar belakang keluarga Jawa-Lampung. Ia mengaku baru sekitar delapan bulan merantau, sehingga Ramadan dan Lebaran tahun ini menjadi pengalaman pertamanya jauh dari kampung halaman. “Bandung itu sejuk, jadi puasanya terasa lebih ringan dibandingkan di Lampung yang panasnya cukup menyengat,” ujarnya, pada Rabu 18 Maret 2026.
Selain itu, suasana religius di Bandung juga sangat terasa. Ia kerap mengikuti kajian di berbagai masjid besar seperti Pusdai dan Masjid Salman ITB, bahkan sesekali ikut berkontribusi sebagai pemateri maupun moderator. Hal ini membuat Ramadan di perantauan tetap terasa produktif dan penuh makna. Namun, tantangan sebagai perantau tetap dirasakan, terutama saat berbuka puasa. “Kadang berbuka sendiri karena lingkungan tempat tinggal cukup sepi. Tapi sesekali tetap cari teman untuk buka bersama supaya tidak terasa sendiri,” ucapnya.
Dari sisi kuliner, Yaksa merasakan perbedaan cita rasa yang cukup mencolok. “Kalau di Lampung cenderung pedas, di Bandung lebih manis. Saya sempat coba seblak, rasanya unik dan cukup berbeda,” katanya. Memasuki momen Lebaran, suasana di Bandung menurut Yaksa tetap terasa meriah meskipun ia jauh dari keluarga. Malam takbiran diwarnai dengan gema takbir dari masjid-masjid dan sebagian masyarakat juga menggelar takbir keliling, meski tidak semeriah di kampung halamannya.
Pada hari raya Idulfitri, Yaksa menjalankan salat Id di lapangan atau masjid besar bersama masyarakat setempat. Setelah itu, tradisi silaturahmi tetap dilakukan, meskipun dalam lingkup teman dan komunitas perantau. “Biasanya setelah salat Id, kami saling berkunjung ke teman-teman sesama perantau. Jadi tetap ada suasana kebersamaan meskipun jauh dari keluarga,” ucapnya.
Dari sisi kuliner Lebaran, Yaksa mengaku cukup melepas rindu dengan mencari makanan khas yang mendekati masakan kampung halaman. “Kalau Lebaran pasti cari opor ayam, ketupat, atau rendang. Walaupun beli, setidaknya bisa sedikit mengobati rindu suasana rumah,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa beberapa komunitas perantau biasanya mengadakan acara makan bersama dengan menu khas Lebaran, sehingga nuansa hari raya tetap bisa dirasakan dengan hangat.
Di akhir, Yaksa menyampaikan pesan untuk generasi muda agar mampu beradaptasi di mana pun berada. “Jangan mudah mengeluh saat merantau. Jadikan setiap pengalaman sebagai proses belajar dan tetap produktif,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....