Ramadan Momentum Perkuat Inklusi dan Kepedulian Sosial

  • 03 Mar 2026 00:34 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Ramadan 1447 Hijriah kembali menyapa umat Islam dengan sejuta makna. Bulan suci ini tidak hanya menghadirkan ruang penguatan iman, tetapi juga menjadi momentum berbagi kisah inspiratif tentang kesabaran, keteguhan, dan cinta kepada Allah SWT. Sebagaimana disampaikan Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalimantan Timur, Anni Juairiyah kepada RRI Samarinda dalam program “Kisah Unik Ramadan”.

Dalam perbincangan tersebut, Anni Juairiyah menegaskan bahwa Ramadan merupakan ruang refleksi untuk menilai sejauh mana masyarakat telah menghadirkan keadilan dan kesetaraan. Ia memandang perjuangan inklusif sebagai bagian dari ikhtiar menegakkan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi martabat manusia tanpa terkecuali.

“Perjuangan inklusif bukan hanya agenda sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral kita untuk memastikan tidak ada satu pun manusia yang terpinggirkan,” ujarnya. Menurutnya, ajaran Islam menempatkan keadilan dan kasih sayang sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam memperlakukan penyandang disabilitas.

Ia menambahkan, Ramadan mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan pada kondisi fisik, melainkan pada ketakwaannya. Karena itu, bulan puasa menjadi pengingat agar tidak merendahkan siapa pun, termasuk kelompok rentan. Empati yang tumbuh dari rasa lapar dan dahaga seharusnya mendorong lahirnya solidaritas nyata.

Bagi Anni, empati bukan sekadar rasa kasihan, tetapi kesadaran untuk membuka akses dan memastikan partisipasi setara. Ia menilai inklusi sebagai wujud nyata rahmah dalam Islam, di mana setiap individu diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi.

Salah satu pengalaman Ramadan yang paling berkesan baginya adalah ketika komunitas disabilitas diundang dalam sebuah kegiatan buka puasa bersama di tingkat provinsi dan diterima secara setara. “Kami diterima dengan hangat, makan bersama, salat berjamaah tanpa perbedaan. Momen itu membahagiakan dan memberi harapan bahwa kesetaraan itu nyata,” ucap Anni Juairiyah.

Ia juga melihat perubahan positif dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran pengajian Al-Qur’an dengan bahasa isyarat, konten dakwah digital yang ramah disabilitas, serta masjid yang mulai menyediakan akses kursi roda menjadi indikator kemajuan. Meski demikian, ia mengakui akses tersebut belum merata, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota.

Menurutnya, Ramadan dapat menjadi energi perubahan sosial. Ketika masjid menyediakan juru bahasa isyarat, menyiapkan jalur landai, atau menghadirkan teks dalam kajian daring, maka Ramadan tidak hanya mengubah individu tetapi juga sistem yang lebih inklusif.

“Harapan kami, Ramadan menjadi ruang ibadah yang benar-benar setara, di mana penyandang disabilitas tidak hanya diterima sebagai penerima santunan, tetapi juga diberi kesempatan berperan dan berkontribusi penuh,” katanya.

Melalui kisah ini, Ramadan kembali ditegaskan sebagai bulan yang membangun ketahanan jiwa sekaligus memperluas cakrawala empati. Dari ruang ibadah hingga ruang sosial, semangat inklusi yang tumbuh di bulan suci diharapkan terus berlanjut, sehingga keadilan dan kesetaraan benar-benar menjadi nilai bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....