Tradisi Ramadan di Berau: Merawat Silaturahmi lewat Paparuan dan Mengucur
- 16 Mar 2026 20:01 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Berau tetap teguh menjaga berbagai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi-tradisi seperti Menguati Kampung, Paparuan, hingga Mengucur (ziarah kubur) menjadi simbol kesiapan spiritual dan sosial warga Banua dalam menyongsong bulan penuh berkah.
Dalam program Pantas Berau di RRI Samarinda pada Februari 2026, narasumber Agay Wahab dan Inda Susi mengupas tuntas kemeriahan suasana menjelang Ramadan di tanah Berau. Mereka menekankan bahwa meskipun zaman telah berganti, esensi dari tradisi ini tetap berfokus pada penyucian diri dan penguatan tali persaudaraan antarwarga.
"Prosesi Paparuan adalah momen di mana masyarakat saling hantar-menghantar makanan atau wadai (kue) tradisional. Tujuannya adalah untuk mempererat silaturahmi, sehingga saat kita memasuki bulan Ramadan, hubungan dengan tetangga dan kerabat sudah bersih dari rasa salah," ujar Agay Wahab dalam dialog di studio RRI Samarinda.
Tradisi Paparuan biasanya dilakukan dua hingga tiga hari sebelum puasa dimulai. Masyarakat saling bertukar kue khas seperti apam, cucur, wajik, hingga lemang. Di dalam hantaran tersebut, seringkali diselipkan permohonan doa untuk arwah orang tua atau kerabat yang telah tiada, yang kemudian dibacakan oleh penerima hantaran sebagai bentuk kepedulian sosial.
Selain interaksi antarmanusia, terdapat pula tradisi Menguati Kampung. Ritual ini dilakukan oleh para sesepuh dengan cara berkeliling kampung sambil memanjatkan doa-doa keselamatan. Tujuannya adalah untuk menyucikan kampung dari hal-hal negatif dan sebagai ungkapan terima kasih kepada sang Pencipta sebelum memulai ibadah puasa.
Persiapan di tempat ibadah juga tidak kalah meriah. Warga secara gotong royong membersihkan masjid dan langgar agar ibadah tarawih dapat dijalankan dengan nyaman. Salah satu ciri khas unik di Berau saat bulan puasa adalah penyediaan Air Sarbat atau minuman jahe hangat bagi para jamaah tarawih untuk menjaga kesehatan tubuh selama beribadah di malam hari.
"Kami juga melakukan tradisi Mengucur atau ziarah ke kubur keluarga. Ini adalah bentuk pengingat bagi kita yang masih hidup sekaligus mengirimkan doa bagi mereka yang sudah mendahului kita," ujar Agay Wahab menjelaskan rangkaian aktivitas spiritual warga Berau.
Interaksi pendengar dalam acara tersebut, seperti Agay Amay dan Inda Nana, juga menyoroti pentingnya pelestarian rumah adat dan ornamen budaya sebagai identitas bangsa. Menurut mereka, Ramadan adalah momentum yang tepat untuk membangkitkan kembali nilai-nilai sopan santun dan budaya Nusantara yang luhur di tengah arus modernisasi.
Melalui berbagai tradisi ini, masyarakat Berau berharap nilai-nilai gotong royong dan kesederhanaan tetap terjaga. Meskipun raga berada di perantauan, ingatan akan hangatnya kebersamaan dalam tradisi Paparuan dan Mengucur tetap menjadi pengikat batin yang kuat bagi warga Banua di mana pun berada.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....