Ramadan 'Rami Pol' di Tanah Deli, dari Asbuh hingga Pakat Khas Medan
- 04 Mar 2026 11:47 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan di setiap daerah memiliki warna tersendiri. Bagi M. Akbar Hajoran Siregar, pemuda yang tumbuh besar di Kota Medan, Tanah Deli, bulan suci selalu identik dengan satu kata: “rami pol”.
Akbar merupakan alumni UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda yang menempuh pendidikan sejak 2020 hingga lulus pada 2024. Setelah merantau dan merasakan Ramadan di Samarinda, ia kembali ke Medan dan semakin menyadari perbedaan suasana Ramadan di dua kota tersebut.
Menurutnya, Ramadan di Medan terasa sangat ramai karena keberagaman etnis yang hidup berdampingan, mulai dari Batak, Melayu, Tionghoa, hingga komunitas India yang memiliki kawasan tersendiri di kota itu. Keberagaman ini justru membuat Ramadan semakin semarak, baik dari sisi tradisi maupun kuliner.
Salah satu tradisi khas yang masih lestari adalah Asbuh (Asmara Subuh). Tradisi ini dilakukan setelah salat subuh, di mana para remaja berkeliling kota secara beramai-ramai, masih mengenakan sarung dan peci. Mereka berkumpul, konvoi, bahkan berhenti di titik tertentu untuk bersilaturahmi. “Dari puasa pertama sampai terakhir, jalanan pagi itu selalu ramai,” ujarnya kepada rri.co.id, dikutip Rabu, 4 Maret 2026.
Selain Asbuh, ada pula tradisi mandi pangir menjelang Ramadan. Tradisi ini dilakukan H-1 hingga beberapa hari sebelum puasa dengan mandi menggunakan campuran bunga dan jeruk di sungai. Tujuannya sebagai simbol penyucian diri menyambut bulan suci. Meski kini lebih banyak dilakukan generasi tua, tradisi ini masih bisa dijumpai di beberapa titik di Medan.
Menjelang berbuka, warga Medan mengenal istilah JJS (Jalan-Jalan Sore). Sejak sore hari, masyarakat memadati pusat jajanan takjil yang tersebar di berbagai sudut kota. Aneka kuliner khas bermunculan, termasuk makanan yang sangat identik dengan Ramadan, yaitu pakat, rotan muda yang dibakar lalu disantap dengan sambal. Selain pakat, lemang juga mudah ditemui saat Ramadan, berjejer di pinggir jalan. Untuk minuman, cendol dengan gula aren asli menjadi ciri khas tersendiri karena rasanya lebih pekat dan manis.
Dalam aspek keagamaan, Ramadan di Medan juga diwarnai dengan safari Ramadan yang melibatkan pelajar SMP. Para siswa ditugaskan memberikan kultum, membaca Al-Qur’an, hingga menjadi pembawa acara di berbagai masjid. Tradisi ini, menurut Akbar, melatih keberanian sekaligus menanamkan nilai religius sejak dini.
Nilai kebersamaan pun terasa kuat. Sebelum Ramadan, warga bergotong royong membersihkan masjid dan makam. Selama Ramadan, anak-anak TK hingga SMP turut membagikan takjil di jalanan. Bahkan suasana malam hari yang biasanya identik dengan stigma negatif justru berubah menjadi lebih hangat dan ramai oleh aktivitas ibadah serta silaturahmi.
Akbar berharap tradisi-tradisi ini tetap terjaga oleh generasi muda. “Harapannya budaya Ramadan di Medan tetap lestari, terutama Asbuh, safari Ramadan, dan kebersamaan remaja masjid. Itu yang bikin Ramadan selalu hidup,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....