Sejuknya Ramadan di Wonosobo, dari Pujasera hingga Mie Ongklok
- 02 Mar 2026 06:08 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Suasana Ramadan di setiap daerah selalu punya cerita yang berbeda. Jika di kota-kota besar identik dengan kemacetan dan hiruk-pikuk pasar takjil, maka di Wonosobo, Jawa Tengah, Ramadan hadir dengan nuansa yang lebih sejuk, secara harfiah maupun suasana hati. Hal inilah yang dibagikan oleh Nanda Ghani dalam program Kesah Ramadan Pro 4 Radio Republik Indonesia Samarinda.
Perempuan bernama lengkap Trinandagani ini mengaku sudah menetap dan berkarier di Wonosobo sejak 2023, meski sebelumnya besar di Purbalingga. Menurutnya, perbedaan paling terasa saat Ramadan di Wonosobo adalah cuacanya. Berada di dataran tinggi, suhu harian berkisar di angka 20 derajat hingga belasan derajat Celsius. Bahkan di musim kemarau tertentu, suhu bisa mendekati nol derajat dan memunculkan embun es di kawasan tinggi seperti Dieng. “Ramadan di sini itu adem banget. Jadi suasananya lebih syahdu, apalagi saat buka puasa,” ujarnya.
Menjelang berbuka, masyarakat Wonosobo biasanya memadati pujasera, pasar tumpah musiman yang hanya hadir selama Ramadan. Beberapa titik ramai berada di pusat kota, Jalan A. Yani, Sudagaran, hingga depan Masjid Al-Mansyur, salah satu masjid tertua di Wonosobo. Di sanalah aneka takjil tradisional hingga kekinian dijajakan, mulai dari dawet, kolak, hingga aneka gorengan.
Tak hanya kuliner umum, Wonosobo juga memiliki hidangan khas yang selalu diburu, yakni mie ongklok. Salah satu yang legendaris adalah Mie Ongklok Longkrang. Mie berkuah kental gurih-manis ini biasanya disajikan dengan sate sapi dan paling nikmat disantap saat udara dingin menyelimuti kota. Selain itu ada tempe kemul, tempe tepung berbumbu khas dengan tambahan daun kucai yang kerap menjadi pelengkap.
Untuk oleh-oleh, Wonosobo terkenal dengan carica, buah khas dataran tinggi yang bentuknya menyerupai pepaya kecil berbintang. Buah ini biasanya diolah menjadi manisan atau sirup yang segar untuk campuran es takjil. Ada pula sagon bakar, kue berbahan kelapa dan tepung ketan yang dipanggang di atas arang, serta aneka keripik kentang khas Dieng.
Selain kuliner, nilai religius dan kebersamaan sangat terasa selama Ramadan. Tradisi tadarus, khataman Al-Qur’an, hingga iring-iringan obor menjelang Ramadan masih lestari, terlebih karena Wonosobo dikenal memiliki banyak pondok pesantren. Sebelum Ramadan tiba, masyarakat juga menggelar tradisi nyadran atau bersih-bersih makam, lalu dilanjutkan makan bersama. Ada pula munggahan, tradisi makan bersama sebagai tanda menyambut bulan suci.
Menurut Nanda, Ramadan di Wonosobo bukan hanya soal dinginnya udara, tetapi juga tentang hangatnya kebersamaan. “Tradisi seperti munggahan, nyadran, sampai pujasera itu jangan sampai hilang. Itu yang bikin Ramadan selalu dirindukan,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....