Malamang: Tradisi Gotong Royong dan Simbol Penghormatan Menjelang Ramadan
- 16 Mar 2026 19:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Memasuki bulan suci Ramadan, masyarakat Minangkabau menghidupkan kembali tradisi Malamang. Aktivitas memasak lemang dalam bambu ini bukan sekadar mengolah makanan, melainkan menjadi simbol kerukunan, gotong royong, dan penghormatan antar sesama anggota keluarga maupun tetangga.
Dalam siaran Pantas Minang di RRI Samarinda pada Februari 2026, narasumber Uni Yet menjelaskan malamang adalah ritual wajib yang dilakukan secara bersama-sama. Lemang dibuat dari beras ketan (pulut) yang dicampur santan, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang, lalu dibakar di atas api kecil.
"Tradisi malamang ini biasanya dikerjakan secara gotong royong. Ada yang mencari bambu, ada yang menyiapkan kayu bakar, dan ada yang meracik ketannya. Ini adalah salah satu cara terbaik untuk mempererat silaturahmi sebelum kita masuk ke bulan puasa," ujar Uni Yet saat menjelaskan makna sosial tradisi tersebut.
Salah satu fungsi utama dari tradisi ini adalah sebagai sarana "Menjalang" atau berkunjung. Uni Yet menambahkan bahwa lemang yang sudah masak akan diantarkan ke rumah sanak saudara, terutama kepada mertua atau orang tua. Hal ini menjadi tanda rasa hormat dan permohonan maaf sebelum menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Narasumber lainnya, Uni Nel, menekankan lemang memiliki pasangan setia dalam penyajiannya, yaitu tapai ketan hitam. Kombinasi rasa gurih dari lemang dan asam-manis dari tapai menjadi hidangan favorit yang selalu dirindukan setiap menjelang Ramadan.
"Spesifiknya di kampung kita, lemang itu kawan setianya adalah tapai. Membawa makanan kesukaan ini saat berkunjung ke rumah mertua atau orang tua adalah bentuk penghargaan kita terhadap mereka. Itu menunjukkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang besar dan mulia," kata Uni Nel menambahkan.
Secara filosofis, proses membakar lemang yang memakan waktu lama juga mengajarkan tentang kesabaran. Setiap ruas bambu harus diputar secara merata di atas api agar ketan matang dengan sempurna. Kesabaran ini dianggap sebagai latihan awal bagi masyarakat sebelum menghadapi ujian kesabaran yang sesungguhnya di bulan puasa.
Hingga kini, meski di perantauan seperti di Samarinda, tradisi malamang tetap diupayakan untuk dilestarikan. Bagi warga Minang, aroma bambu yang terbakar bukan sekadar tanda masakan matang, melainkan pertanda bahwa hati telah siap menyambut bulan suci dengan penuh kedamaian dan kebersamaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....