Tradisi Ramadan Madiun Raya, Harmoni Budaya dan Ibadah
- 27 Feb 2026 10:49 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu menjadi momentum istimewa yang menghadirkan semangat kebersamaan di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki cara unik dalam menyambut bulan suci, memadukan tradisi lokal dengan nilai-nilai keislaman yang telah mengakar kuat. Dari kota hingga desa, nuansa religius berpadu dengan kearifan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda, pendengar diajak menyapa Siti Rochani, seorang reporter RRI Madiun yang kesehariannya meliput wilayah Magetan, Madiun, dan Ngawi, kawasan yang kini populer disebut Madiun Raya. Perempuan asal Magetan yang kini banyak beraktivitas di Madiun itu berbagi cerita tentang warna Ramadan di daerahnya. “Bagi aku Ramadan itu bulan yang menyenangkan, apalagi dalam konteks pekerjaan, karena ada banyak momen yang hanya terjadi di Ramadan,” ucapnya.
Sebagai reporter, Siti mengaku Ramadan selalu menghadirkan liputan khas yang tidak ditemui di bulan lain. Mulai dari tradisi budaya, dinamika pasar takjil, hingga arus mudik dan arus balik Lebaran. Liputan H-7 hingga H+7 menjadi momen paling padat sekaligus berkesan baginya.
Di wilayah Madiun Raya, tradisi menyambut Ramadan masih lestari. Salah satunya adalah nyekar atau ziarah kubur untuk mendoakan keluarga yang telah wafat. Selain itu ada tradisi megengan, yakni kenduri atau selamatan sehari sebelum Ramadan sebagai simbol menyambut bulan suci dengan penuh suka cita. “Megengan itu seperti selamatan untuk menyambut bulan yang agung, nanti didoakan di masjid lalu dimakan bersama,” ujarnya.
| Baca juga: Tradisi yang Tetap Lestari di Kota Kembang |
Tradisi selamatan juga dilakukan saat Nuzulul Quran dan menjelang Idulfitri. Menurutnya, rangkaian ini seperti pembuka dan penutup Ramadan yang sarat makna kebersamaan. Suasana sahur di tempat tinggalnya di Maospati, Magetan, memiliki keunikan tersendiri karena berada dekat pangkalan udara militer. “Kalau sahur kadang dibangunkan suara mesin pesawat yang sedang dipanaskan, jadi benar-benar khas,” katanya.
Dari sisi kuliner, Ramadan identik dengan beragam pilihan takjil. Salah satu minuman tradisional yang masih populer adalah janggelan, olahan daun mirip cincau berwarna hitam yang menyegarkan. Untuk makanan, sambal pecel khas Madiun tetap menjadi primadona, baik untuk berbuka maupun sahur. Selain itu ada lempeng, kerupuk beras berbentuk kotak yang kerap dipadukan dengan sambal pecel hingga disebut lempeng gapit. Ada pula jadah jagung berwarna kuning yang mengenyangkan dan menjadi sajian tradisional favorit.
Sebagai peliput arus mudik, Siti mengaku momen paling berkesan adalah menyaksikan perantau turun dari bus dan disambut keluarga di terminal. Pemandangan tersebut selalu menghadirkan haru. Perjalanan liputan menuju lereng Gunung Lawu saat subuh pun menjadi pengalaman tak terlupakan karena keindahan matahari terbit yang jarang ia nikmati di luar Ramadan.
Menjelang Ramadan dan Lebaran, Kota Madiun juga mengalami peningkatan aktivitas. Pasar tradisional dan pusat perbelanjaan dipadati warga yang bersiap menyambut bulan suci maupun Hari Raya. Arus kendaraan meningkat, terutama karena Madiun kini dilintasi jalur tol lintas utara Pulau Jawa yang memudahkan mobilitas pemudik. Di akhir perbincangan, Siti berharap tradisi Ramadan tetap lestari dengan melibatkan generasi muda. “Tradisi itu akan lestari kalau dilakukan dan dimaknai, terutama oleh anak-anak muda. Mereka harus dirangkul supaya tahu filosofi di balik nyekar dan selamatan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....