Ramadan Padang: Semangat Ibadah dan Ragam Takjil

  • 02 Mar 2026 04:53 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di setiap daerah. Dalam program Kesah Ramadan, kali ini menyusuri kisah dari Kota Padang, Sumatera Barat, bersama narasumber Aini yang kini menetap dan bekerja di sana.

Aini menceritakan bahwa dirinya besar di Padang sejak masa sekolah dasar, kemudian sempat merantau untuk kuliah di Jawa, dan kembali lagi ke kampung halaman pada April 2025. Baginya, Ramadan di Padang selalu menghadirkan rasa rindu yang khas, mulai dari suasana religius yang kental hingga kebersamaan masyarakat yang begitu terasa. “Kalau dengar kata Ramadan, yang terbayang itu masjid penuh, ceramah dari pagi sampai malam, dan orang-orang berlomba berbuat baik,” ujarnya.

Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah Balimau, tradisi mandi menjelang Ramadan sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci. Selain itu, ziarah ke makam keluarga juga menjadi kebiasaan masyarakat. Namun yang paling menonjol, menurut Aini, adalah aktivitas keagamaan yang sangat padat. Anak-anak SD hingga SMA diarahkan mengikuti kegiatan ceramah, tadarus, dan ibadah di masjid atau surau. Bahkan sejak pagi hari, masjid sudah ramai oleh kegiatan keagamaan. “Di sini terasa sekali satu bulan penuh itu benar-benar diisi dengan aktivitas agama,” ucapnya.

Dari sisi kuliner, Ramadan di Padang identik dengan ragam takjil yang menyegarkan. Karena cuaca yang cenderung panas, minuman segar menjadi favorit saat berbuka. Salah satu yang khas adalah es rumput laut putih yang dipadukan dengan santan dan aneka buah. Ada pula kalikih santan, pepaya merah manis yang disajikan bersama kuah santan gurih dan es batu. Perpaduan manis dan gurih ini menjadi menu pembuka yang unik.

Menariknya, suasana kota juga berubah signifikan saat Ramadan. Menurut Aini, udara terasa lebih segar karena berkurangnya aktivitas merokok di siang hari. Kemacetan yang biasanya terjadi sore hari pun bergeser ke menjelang waktu berbuka.

Dari sudut pandang generasi muda, antusiasme anak-anak dan remaja di Padang tergolong tinggi. Mereka aktif mengikuti kegiatan masjid, berbagi takjil, hingga berburu tanda tangan penceramah sebagai bagian dari tugas sekolah agama. Aini mengenang masa kecilnya yang harus berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk mendengarkan ceramah, bahkan pernah berlari ketakutan melewati rimbunan bambu demi memenuhi tugas tersebut. Kenangan itu kini menjadi cerita manis yang tak terlupakan.

Aini berharap suasana positif Ramadan tidak hanya berhenti setelah bulan suci usai. “Semoga kebiasaan baik seperti berhenti merokok, rajin ke masjid, dan gemar bersedekah bisa terus dilanjutkan, bukan hanya saat Ramadan saja,” ujarnya. Ia juga berdoa agar ibadah tahun ini diterima dan semua dapat kembali bertemu Ramadan berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....