Tradisi Ramadan di Banjarmasin

  • 08 Mar 2026 11:51 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Suasana Ramadan di setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, baik dari tradisi, kuliner hingga aktivitas masyarakatnya. Hal tersebut dibagikan oleh Bahjatul Munirah atau yang akrab disapa Ira dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda. Ira yang merupakan mahasiswi Psikologi di UIN Antasari Banjarmasin menceritakan berbagai tradisi Ramadan yang masih dijaga oleh masyarakat Banjar.

Ira memperkenalkan dirinya sebagai warga asli Banjarmasin yang telah tinggal di kota tersebut sejak lahir. Meski sempat beberapa kali berpindah tempat karena sekolah atau pekerjaan, ia tetap menetap di Banjarmasin hingga sekarang. “Kalau aku dari lahir sudah di Banjarmasin sampai sekarang, cuma pernah beberapa kali pindah karena sekolah atau kerja,” ujarnya.

Menurut Ira, hal pertama yang terlintas ketika mendengar kata Ramadan di Banjarmasin adalah Pasar Wadai, pasar kuliner khas yang selalu hadir setiap bulan puasa. Pasar tersebut menjadi salah satu ikon Ramadan di kota tersebut karena menjual berbagai kue tradisional khas Banjar. “Kalau misalnya sudah mau Ramadan, yang langsung kepikiran itu Pasar Wadai. Itu identik sekali dengan Ramadan di Banjarmasin,” katanya.

Seiring perkembangan zaman, Pasar Wadai tidak hanya menjual kue tradisional, tetapi juga berbagai makanan modern. Meski demikian, kuliner khas Banjar tetap menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang berburu takjil. “Sekarang di Pasar Wadai tidak cuma kue tradisional, tapi ada juga makanan berat dan makanan kekinian. Jadi kalau mau buka puasa di sana sudah lengkap,” ucap Ira.

Beberapa makanan khas yang menjadi favorit Ira di Pasar Wadai di antaranya ipau dan putri keraton. Ipau merupakan makanan gurih yang bentuknya mirip risol namun disajikan dengan kuah santan kental, sementara putri keraton merupakan kue manis berbahan telur, susu kental manis, dan remahan biskuit. “Kalau aku biasanya beli ipau untuk yang gurih dan putri keraton untuk yang manis,” katanya.

Selain kuliner, masyarakat Banjarmasin juga memiliki sejumlah tradisi yang masih dilakukan selama Ramadan, seperti tadarus Al-Qur’an setelah salat tarawih hingga tradisi membangunkan sahur oleh anak-anak dan remaja. “Biasanya setelah tarawih ada tadarusan di masjid. Kalau dulu juga ada garakan sahur, anak-anak keliling pakai ember atau panci untuk membangunkan warga,” ujarnya.

Ira berharap generasi muda dapat lebih memaknai Ramadan, tidak hanya sebagai momen berkumpul atau berbuka puasa bersama. Ia menilai penting bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam bulan suci tersebut. “Harapannya generasi muda bisa lebih memahami makna Ramadan, mengambil hikmahnya, bukan hanya menikmati keseruannya saja,” ucap Ira.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....