Tradisi yang Tetap Lestari di Kota Kembang

  • 02 Mar 2026 06:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Menjelang waktu berbuka, suasana kota-kota di Indonesia selalu menghadirkan cerita yang berbeda. Dari hiruk-pikuk pasar takjil, lantunan azan magrib, hingga tradisi khas daerah yang tetap lestari, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga ruang kebersamaan yang penuh makna.

Dalam program Kesah Ramadan, PRO 4 Radio Republik Indonesia Samarinda menghadirkan cerita-cerita inspiratif dari berbagai daerah. Pada edisi Jumat 27 Februari 2026, menghadirkan Widianti Eka Pratiwi, yang akrab disapa Teh Widi. Perempuan yang lahir di Cimahi dan besar di Bandung ini membagikan kisah Ramadan khas Tanah Pasundan.

Bagi Teh Widi, satu kata yang langsung terlintas ketika mendengar Ramadan di Bandung adalah “ngabuburit”. Ia menjelaskan bahwa ngabuburit merupakan tradisi menunggu waktu berbuka dengan berjalan-jalan sore sambil mencari takjil. “Ngabuburit itu seru, karena sambil menunggu waktu berbuka kita jalan-jalan cari makanan untuk buka puasa. Itu sudah jadi kebiasaan,” ujarnya.

Tak hanya ngabuburit, ia juga menyebut tradisi munggahan yang rutin dilakukan masyarakat Jawa Barat sebelum Ramadan tiba. Munggahan biasanya diisi dengan berkumpul, saling bermaafan, hingga makan bersama atau botram. Tradisi ini bahkan dilakukan lintas kalangan, mulai dari keluarga, lingkungan RT/RW, hingga kantor. “Di kantor kami juga ada munggahan, maaf-maafan dan makan bersama sebelum Ramadan. Itu jadi momen silaturahmi yang penting,” kata Widi.

Suasana sahur di Bandung pun memiliki warna tersendiri. Tradisi “ngadulag” atau membangunkan sahur dengan beduk masih kerap dilakukan anak-anak dan remaja. Selain itu, aktivitas warga yang keluar mencari makanan sahur membuat suasana dini hari yang biasanya sepi menjadi lebih hidup. Sementara menjelang berbuka, jalanan kota cenderung lebih padat dari hari biasa karena ramainya pemburu takjil.

Berbicara soal kuliner, Teh Widi menyebut beberapa sajian yang identik dengan Ramadan di Bandung, seperti es goyobod, es dawet, kolak cau (kolak pisang), hingga aneka aci-acian seperti cilok, cimol, dan cilor. Meski tidak hanya muncul saat Ramadan, keberadaannya lebih mudah ditemukan karena pedagang berkumpul di satu lokasi.

Di lingkungan tempat tinggalnya, nilai gotong royong juga terasa kuat. Setiap kepala keluarga secara bergiliran menyediakan takjil untuk dibagikan di masjid selama Ramadan. “Itu inisiatif warga, dari hari pertama sampai terakhir puasa ada yang menyediakan takjil. Jadi terasa kebersamaannya,” ujarnya.

Menurutnya, meski Bandung kini berkembang menjadi kota besar, nilai-nilai tradisi tetap terjaga. “Tradisi seperti munggahan dan ngabuburit masih ada sampai sekarang. Harapannya generasi muda tetap menjaga tradisi yang positif ini dan tidak menganggapnya sekadar kebiasaan orang tua,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....