Tradisi Ramadan di Banyuwangi

  • 08 Mar 2026 11:39 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Suasana Ramadan di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi tradisi, aktivitas masyarakat, maupun kuliner khas yang selalu hadir selama bulan suci. Hal tersebut dibagikan oleh Izzul dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda. Ia bergabung melalui sambungan daring dari Banyuwangi, Jawa Timur, dan menceritakan berbagai tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat setempat saat Ramadan.

Izzul memperkenalkan dirinya sebagai warga asli Banyuwangi. Ia menyebut dirinya sebagai “Akamsi” atau anak kampung sini karena lahir dan besar di daerah tersebut, meskipun saat ini merantau di Surabaya untuk menempuh pendidikan sekaligus mengajar di salah satu sekolah dasar. “Saya ini akamsi, anak kampung sini. Lahir dan besar di Banyuwangi, walaupun sekarang merantau di Surabaya untuk kuliah dan mengajar,” ujarnya.

Menurut Izzul, suasana Ramadan di Banyuwangi terasa lebih hidup dibandingkan bulan-bulan lainnya. Aktivitas masyarakat meningkat, baik dalam kegiatan ibadah maupun aktivitas ekonomi. Banyak warga yang berjualan makanan dan minuman untuk berbuka puasa, sementara masjid dan musala juga ramai oleh kegiatan tadarus Al-Qur’an. “Kalau Ramadan di Banyuwangi itu rasanya lebih ramai. Masjid-masjid penuh dengan kegiatan ibadah dan banyak juga masyarakat yang berjualan takjil,” katanya.

Salah satu tradisi khas yang dilakukan masyarakat Banyuwangi menjelang Ramadan adalah ater-ater, yaitu kebiasaan saling berbagi makanan kepada tetangga. Makanan biasanya ditempatkan dalam wadah seperti mangkuk atau piring, lalu diantarkan ke rumah-rumah sekitar sebagai bentuk kebersamaan. “Biasanya sebelum Ramadan kami saling mengantar makanan ke tetangga. Tradisi ini disebut ater-ater, sebagai tanda syukur sekaligus mempererat silaturahmi,” ucap Izzul.

Selain itu, masyarakat Banyuwangi juga memiliki kebiasaan melakukan ziarah kubur atau nyekar sebelum memasuki bulan Ramadan. Tradisi ini dilakukan untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. “Ziarah kubur juga sudah menjadi kebiasaan sebelum Ramadan. Kami biasanya datang ke makam keluarga untuk mendoakan mereka,” katanya.

Memasuki Ramadan, suasana religius semakin terasa di lingkungan desa maupun kota. Kegiatan tadarus Al-Qur’an terdengar dari berbagai masjid dan musala hampir di setiap sudut kampung hingga menjelang waktu sahur. “Biasanya setelah tarawih ada tadarus bersama. Bahkan kadang berlangsung sampai mendekati waktu sahur, jadi suasana Ramadan terasa sekali,” ujarnya.

Selain tradisi, Banyuwangi juga dikenal dengan berbagai kuliner khas yang sering dinikmati saat Ramadan, seperti nasi tempong dan rujak soto. Kedua makanan tersebut cukup populer di kalangan masyarakat maupun wisatawan. “Kalau soal makanan, yang paling khas itu nasi tempong dan rujak soto. Banyak orang mencari makanan ini, apalagi saat Ramadan,” kata Izzul. Ia pun berharap generasi muda tetap menjaga tradisi Ramadan di daerah masing-masing agar nilai kebersamaan dan budaya lokal tetap lestari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....