Ramadan Penuh Kebersamaan di Long Iram Kutai Barat

  • 04 Mar 2026 11:50 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan menghadirkan suasana khas di setiap daerah. Di Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, bulan suci dijalani dengan nuansa kebersamaan yang kental di tengah keberagaman suku. Masyarakat yang hidup berdampingan di wilayah tepian Sungai Mahakam menjadikan Ramadan sebagai momentum mempererat persaudaraan dan memperkuat nilai toleransi.

Baginya, Long Iram bukan sekadar tempat tinggal. “Di sinilah saya menghabiskan masa kecil, masa sekolah, dan mengenal lingkungan sosial serta budaya masyarakat. Long Iram punya makna emosional yang sangat dalam bagi saya,” ucapnya, dikutip Rabu, 4 Maret 2026.

Menurutnya, keberagaman suku seperti Dayak, Kutai, Bugis, Banjar, dan Jawa menjadi kekuatan tersendiri saat Ramadan. Perbedaan latar belakang melebur dalam kebersamaan. “Walaupun berbeda suku dan budaya, saat Ramadan semuanya menyatu. Masyarakat saling menghargai dan berbagi,” kata Siti.

Tradisi berbagi makanan menjelang berbuka masih terjaga hingga kini. Warga saling mengirim hidangan tanpa memandang perbedaan, sekaligus saling mengenalkan kuliner khas masing-masing. Aktivitas ibadah di masjid juga meningkat, mulai dari tarawih hingga tadarus. “Masjid menjadi pusat kebersamaan. Hampir semua warga terlibat dalam kegiatan Ramadan,” ujarnya.

Suasana sahur pun tetap semarak dengan keterlibatan anak-anak muda yang berkeliling kampung membangunkan warga. Kue tradisional seperti amparan tatak, bingka, dan pais pisang turut menjadi sajian khas berbuka. “Generasi muda masih antusias mengikuti tarawih, tadarus, dan kegiatan sosial. Mereka adalah penerus yang menjaga tradisi,” ucapnya.

Ia menilai perubahan suasana kampung sangat terasa selama Ramadan, terutama pada malam hari ketika aktivitas ibadah meningkat. Menurutnya, momen paling berkesan adalah menjalani puasa hari pertama bersama keluarga di kampung halaman. “Semoga kebersamaan, gotong royong, dan tradisi berbagi tetap dijaga. Menjaga tradisi berarti menjaga cerita,” kata Siti Hajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....