Ramadan Balikpapan: Takjil, Tradisi, dan Kebersamaan

  • 02 Mar 2026 04:57 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu menghadirkan cerita berbeda di setiap kota. Dalam program Kesah Ramadan Pro 4, kali ini giliran cerita dari Balikpapan yang dibagikan oleh Anisa, perempuan kelahiran Balikpapan yang tumbuh besar di kota minyak tersebut. Meski sempat merantau untuk kuliah di luar daerah, Anisa mengaku darah Balikpapan begitu kuat dalam dirinya. Sang ibu berdarah Banjar dari Binuang, sementara ayahnya asli Samarinda, namun keduanya menetap dan membangun keluarga di Balikpapan.

Bagi Anisa, Ramadan identik dengan kesucian dan momen berburu takjil. “Kalau dengar kata Ramadan, yang terlintas itu hari suci dan takjil,” ujarnya. Menu favorit yang selalu ia cari adalah babongko, kue tradisional berbahan dasar gula merah dengan tekstur lembut. Tradisi “war takjil” atau berburu jajanan berbuka bisa ia lakukan sendiri, bersama orang tua, maupun teman. Meski tahun ini belum ada takjil yang benar-benar viral, suasana pasar Ramadan tetap ramai dengan aneka es segar, seperti es mangga dan minuman kekinian yang marak dijual saat bulan puasa.

Namun, di balik semarak kuliner, ada tradisi yang mulai memudar. Anisa mengatakan bahwa kebiasaan membangunkan sahur keliling oleh anak-anak muda sudah jarang terdengar, khususnya di kawasan Balikpapan Selatan tempat ia tinggal. “Dulu, sekitar pukul 02.30 dini hari, anak-anak dan remaja berkeliling gang sambil membunyikan alat seadanya untuk mengingatkan warga sahur,” ucapnya. Kini, tradisi itu perlahan hilang dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Meski demikian, tradisi lain seperti tadarus di masjid dan berbagi takjil di pinggir jalan justru masih hidup dan bahkan didominasi generasi muda.

Kebersamaan keluarga juga menjadi bagian penting dari kenangan Ramadan Anisa. Ia mengenang masa ketika almarhum nenek selalu mengumpulkan keluarga besar untuk berbuka puasa pertama di rumahnya. Sejak sang nenek tiada, kebiasaan itu ikut menghilang dan momen berbuka lebih sering dilakukan di rumah masing-masing. Meski begitu, tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan maupun mendekati Lebaran masih rutin dilakukan warga, menyesuaikan waktu luang masing-masing keluarga.

Dari sisi suasana kota, menurut Anisa, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok selain ritme harian yang berubah, bangun lebih awal untuk sahur dan menanti waktu berbuka dengan suasana lebih khusyuk. Aktivitas berbagi sembako, pembagian takjil gratis, serta buka puasa bersama menjadi momen yang memperkuat nilai kebersamaan. Bahkan, ia menilai anak-anak muda justru paling aktif terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan selama Ramadan.

Pengalaman Ramadan yang paling berkesan bagi Anisa bukanlah tentang tempat, melainkan aksi berbagi. Bersama lingkar pertemanannya, ia rutin mengadakan kegiatan berbagi takjil setiap Ramadan. Baginya, sederhana namun bermakna. Anisa berharap tradisi Ramadan di Balikpapan tidak tergerus perkembangan zaman. Ia menyadari kemajuan teknologi kerap membuat orang sibuk dengan dunia masing-masing, sehingga nilai kebersamaan berisiko memudar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....