Ramadan Rohmi di India Penuh Warna
- 28 Feb 2026 20:59 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Jauh dari rumah, setiap perjalanan selalu dimulai dari sebuah pilihan. Bagi Rohmi Aisyah, pilihan itu membawanya dari Belitang, Sumatera Selatan, menuju India, negeri yang dikenal dengan warna, hiruk-pikuk, dan tradisi yang masih terjaga hingga kini. “Nama aku Rohmi Aisyah, asal Belitang, Sumatera Selatan. Sekarang aku di India sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Sudah satu setengah tahun Rohmi menetap di India dan kini memasuki tahun terakhir studinya. Ia menempuh pendidikan magister pada program Biodiversity Studies and Management di Aligarh Muslim University yang terletak di Aligarh, negara bagian Uttar Pradesh. “Aku pilih India karena negaranya unik, banyak tradisi yang masih asli, dan kekayaan alamnya juga luar biasa,” katanya. Selain itu, beasiswa yang mencakup tiket pesawat, tempat tinggal, hingga buku menjadi pertimbangan penting dalam keputusannya.
Kota Aligarh berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari New Delhi. Di kota itu, Rohmi merasakan dinamika kehidupan yang berbeda dari Indonesia. Transportasi umum seperti oto dan riksa tersedia, tetapi banyak mahasiswa Indonesia memilih memiliki kendaraan pribadi demi fleksibilitas. “Karena jaraknya lumayan jauh, kita lebih milih punya kendaraan pribadi,” jelasnya.
Keramaian jalanan India menjadi pengalaman yang paling membekas. Klakson kendaraan hampir tak pernah berhenti, berpadu dengan lalu lintas yang padat dan kehadiran hewan yang dilepasliarkan. “India itu negara yang ramai, terutama di jalan. Klakson hampir nggak pernah berhenti,” tutur Rohmi. Situasi tersebut menjadi keunikan tersendiri yang tak ia temukan di tanah air.
Ramadan di Aligarh menghadirkan suasana yang cukup akrab bagi Rohmi. “Suasana Ramadan di Aligarh ini nggak terlalu beda sama Indonesia, hampir mirip, karena mayoritas penduduknya muslim,” katanya. Menjelang berbuka, pasar dipenuhi jajanan khas seperti samosa dan pakori. Namun, ia mencatat adanya perbedaan kebiasaan, terutama ruang publik yang lebih banyak diisi laki-laki saat menjelang magrib.
Salah satu hidangan yang selalu hadir saat Ramadan adalah mohabbat ka sharbat, minuman segar berbahan semangka dan biji selasih. “Minuman ini dicari banget selama puasa di sini. Seger banget buat buka puasa,” ujarnya. Durasi puasa di India berkisar 12 hingga 13 jam saat musim dingin, dan dapat mencapai 14 jam pada musim panas.
Meski mayoritas muslim, Rohmi mengalami culture shock ketika mengetahui bahwa perempuan umumnya tidak beribadah di masjid saat Ramadan. “Anggapan mereka, cewek ibadahnya di rumah aja. Jadi aku agak kaget,” katanya. Kendati demikian, ia merasakan sikap saling menghargai dari teman-teman lintas agama. “Teman-teman non-muslim di sini sudah familiar sama Ramadan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa mereka bahkan ikut membantu saat buka bersama.
Dalam hal makanan halal, Rohmi tidak mengalami kesulitan berarti karena banyak masyarakat setempat yang vegetarian. Ia mengaku lebih sering memasak sendiri atau menikmati gorengan khas India seperti samosa dan spring roll. Komunitas pelajar Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Aligarh dan PPI India juga rutin mengadakan kegiatan berbagi takjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Menjelang Idulfitri, Rohmi dan mahasiswa Indonesia biasanya menuju KBRI di New Delhi untuk merayakan takbiran dan salat bersama. “Di KBRI banyak banget disediain makanan Indonesia. Itu benar-benar ngobatin rasa kangen sama makanan Indonesia,” ungkapnya. Lebaran memang tidak semeriah di tanah air, tetapi kebersamaan sesama perantau menjadi penguat rindu.
Di negeri orang, Rohmi belajar memaknai Ramadan dan Lebaran dengan cara yang lebih tenang. Ia menutup kisahnya dengan pesan sederhana untuk keluarga di Indonesia. “Untuk keluarga di Indonesia, sehat-sehat ya. Sebentar lagi kita bakal ketemu,” tuturnya. Jarak ribuan kilometer tak menghapus harapan untuk kembali dan berkumpul di rumah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....