Ramadan di Den Haag Penuh Cerita
- 28 Feb 2026 20:48 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan selalu hadir dengan cara yang sama, tetapi terasa berbeda, bergantung pada tempat seseorang menjalankannya. Di negeri yang jauh dari kampung halaman, di antara bangunan tua, kanal yang tenang, dan langit yang kerap mendung, Ramadan tetap menemukan jalannya. Di Den Haag, Den Haag, seorang perempuan muda menjalani puasanya dengan cerita, rindu, dan cara yang tidak biasa.
“Nama aku Aqila, sekarang tinggal di Den Haag, Belanda. Aku pelajar di sini,” ujar Aqila memperkenalkan diri. Empat tahun sudah ia menetap di Belanda. Empat kali Ramadan ia lalui tanpa suara beduk dan tanpa hiruk-pikuk penjual takjil di tepi jalan. Suasana yang lebih sunyi justru menjadi bagian dari proses pendewasaannya.
“Aku sudah tinggal empat tahun di sini. Aku kuliah S1 jurusan International Public Policy,” katanya. Bagi Aqila, Belanda bukan sekadar tempat menempuh pendidikan, melainkan pintu menuju cita-cita yang lebih besar. Ia melihat negeri itu sebagai pusat berbagai organisasi internasional yang relevan dengan bidang studinya. “Kenapa aku di Belanda, karena pusat organisasi internasional dunia mayoritas di Belanda. Dan itu menjadikan lapangan ideal buat aku belajar administrasi publik internasional,” katanya.
Selama Ramadan, rutinitas tetap berjalan seperti biasa. Ia menggunakan trem dan bus untuk mobilitas harian, serta kereta jika bepergian ke luar kota. “Transportasi yang biasa aku gunakan trem dan bus. Tapi kalau keluar kota pakai kereta,” jelasnya. Di negara yang dikenal dengan budaya bersepeda, Aqila memilih transportasi umum sebagai sarana utama.
Belanda dikenal sebagai negara yang tertata rapi, mulai dari ruang kota hingga pelayanan publik. Aqila bahkan menyebut salah satu kotanya terasa seperti simulasi permainan digital. Ia menyinggung Rotterdam sebagai contoh kota dengan tata ruang modern dan mobilitas yang efisien. “Rotterdam selain tata kotanya rapi, ada hal unik. Ke mana-mana orang pakai sepeda. Belanda memang terkenal dengan sepedanya, bahkan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah orang,” ujarnya.
Namun, tantangan terbesar Ramadan di Belanda bukan hanya soal lingkungan yang berbeda, melainkan juga durasi puasa. “Di Belanda, lama waktu puasa di awal Ramadan sekitar 12 jam, dan beberapa hari kemudian bisa sampai 14 jam. Ini yang bikin aku culture shock, apalagi buat penyesuaian di tubuh,” ujarnya. Ia mengaku harus menjaga kondisi fisik dengan sungguh-sungguh, terlebih ketika Ramadan bertepatan dengan musim dingin. “Kalau sahur nggak cukup, aku bisa sakit,” katanya.
Lingkungan yang tidak seluruhnya berpuasa juga menjadi pengalaman tersendiri. “Kalau di Indonesia karena banyak orang puasa, lingkungan otomatis menyesuaikan. Tapi di Belanda, yang puasa memang banyak, tapi bukan mayoritas. Jadi semuanya berjalan seperti biasa,” ujar Aqila. Meski demikian, ia merasakan dukungan dari teman-teman internasional dan pihak kampus. “Masyarakat lokal dan teman-teman internasional itu suportif sama orang yang puasa. Kampusku juga pernah mengadakan acara buka bersama,” katanya.
Soal makanan halal, Aqila menilai aksesnya cukup mudah. Banyak restoran mencantumkan keterangan halal, dan tersedia pula toko khusus daging halal di luar supermarket. Untuk sahur, ia menyiapkan makanan lebih awal. “Kalau sahur aku meal prep. Jadi pas waktu sahur tinggal masukin ke mangkok, terus ke microwave,” ujarnya. Ia sering memilih hidangan bernutrisi seperti bibimbap agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi selama berpuasa.
Menjelang Idulfitri, suasana kebersamaan semakin terasa. Aqila pernah melaksanakan salat Idulfitri di Delft dan menikmati hidangan khas Indonesia seperti opor dan lontong bersama diaspora. Di Den Haag, ia kerap salat di Masjid Indonesia dan mengikuti kegiatan silaturahmi. “Buat aku, itu sedikit mengobati rindu kampung halaman. Karena kebersamaan saat Ramadan itu satu hal yang aku cari dan rindukan dari Indonesia,” ucapnya.
Di bawah langit Belanda yang kerap kelabu, Ramadan bagi Aqila tetap hangat oleh pertemuan dan solidaritas. Jarak tidak menghapus makna, melainkan memperluas cara memaknai kebersamaan. Ramadan di perantauan menjadi ruang belajar, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang keteguhan, adaptasi, dan arti rumah yang sesungguhnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....