Semarak Ramadan Makassar, Hangatnya Rasa dan Kebersamaan

  • 27 Feb 2026 10:45 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan cerita dari berbagai penjuru nusantara. Setiap daerah memiliki warna, tradisi, serta cita rasa khas yang menjadikan Ramadan terasa istimewa. Di tengah derasnya arus digital dan perubahan zaman, nilai kebersamaan, gotong royong, dan semangat berbagi tetap menjadi napas utama masyarakat dalam menyambut bulan penuh berkah ini.

Dalam program Kesah Ramadan Pro 4 RRI Samarinda, pendengar diajak menyelami suasana Ramadan di Kota Makassar bersama narasumber Hikmah Ramli. Dalam perbincangan hangat lintas provinsi, Hikmah berbagi cerita tentang tradisi, kuliner, hingga pengalaman pribadinya menjalani Ramadan di tanah kelahiran.

Hikmah mengawali kisahnya dengan memperkenalkan diri sebagai perempuan kelahiran Makassar yang kini merantau ke Mamuju sejak 2018 karena pekerjaan. Meski merantau, kenangan Ramadan di Makassar tetap melekat kuat. “Kalau dengar kata Ramadan di Makassar, yang pertama terlintas itu kuliner, karena menurutku pribadi makanan Makassar itu enak-enak,” ucapnya.

Menurutnya, geliat UMKM kuliner di Makassar terasa semakin semarak saat Ramadan. Jika di hari biasa banyak pelaku usaha berjualan dari rumah, maka di bulan puasa mereka hadir di berbagai titik keramaian. Bahkan di lingkungan RRI Makassar, setiap Ramadan selalu hadir stan-stan kuliner yang memudahkan masyarakat berburu takjil.

Beragam hidangan khas seperti pisang hijau, jalangkote, hingga coto tetap tersedia sepanjang tahun. Namun suasana Ramadan membuat pengalaman berburu kuliner terasa berbeda. Keramaian juga tampak di kawasan Pantai Losari yang menjadi lokasi favorit warga untuk menunggu waktu berbuka. “Kalau buka puasa yang paling dirindukan itu kumpul-kumpul di Pantai Losari, lihat sunset, banyak kulinernya juga,” katanya.

Tak hanya soal makanan, tradisi keagamaan pun masih terjaga. Salah satunya adalah “ma’ baca-baca”, tradisi doa bersama keluarga besar menjelang Ramadan. Selain itu, kegiatan berbagi takjil, tadarus di masjid, serta buka puasa bergiliran antarblok perumahan menjadi bentuk nyata gotong royong masyarakat. “Biasanya ada jadwal membawa takjil atau buka puasa secara bergantian sesuai blok rumah, itu menurutku gotong royong yang masih terasa sampai sekarang,” ujarnya.

Hikmah juga menyoroti perubahan cara berbagi yang kini semakin mudah dengan teknologi. Jika dahulu berbagi harus dilakukan secara langsung, kini donasi dan berbagi makanan bisa dikoordinasikan lewat telepon genggam. Meski demikian, ia merindukan suasana kebersamaan tanpa distraksi gawai. “Kalau dulu kumpul buka puasa itu tidak pegang handphone, jadi ngobrolnya lebih intens. Sekarang masing-masing sibuk dengan HP-nya,” ucapnya.

Pengalaman Ramadan paling berkesan baginya adalah momen mudik dua hari sebelum Lebaran. Perjuangan mendapatkan tiket dan melihat ramainya terminal yang dipenuhi perantau menjadi kenangan yang selalu dirindukan. Hikmah berharap generasi muda tetap menjaga nilai-nilai Ramadan di tengah perkembangan digital. “Semoga generasi muda mempertahankan semangat berbagi dan gotong royongnya, tidak hanya lewat konten, tapi betul-betul berbagi dari hati,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....