Ramadan Penyintas Aceh: Merawat Tradisi di Tanah Darurat

  • 23 Feb 2026 11:31 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ramadan tahun ini menjadi ujian ketangguhan luar biasa bagi warga terdampak bencana di Aceh. Di tengah keterbatasan Hunian Sementara (Huntara) yang masih didominasi tenda dan bangunan darurat, semangat ibadah masyarakat tidak sedikit pun meredup. Alunan zikir dan lantunan ayat suci Al-Qur'an tetap menggema di sela-sela dinding papan, menandakan kehidupan yang mulai pulih meski luka trauma belum sepenuhnya mengering.

Khairul Asmadi, seorang warga yang terlibat dalam aktivitas kemanusiaan, mengungkapkan bahwa suasana Ramadan kali ini mengingatkan banyak orang pada memori kolektif tsunami masa lalu. "Banyak yang memikirkan keluarga yang telah tiada, trauma itu diobati terus lewat ibadah bersama di bulan suci ini," ujarnya dalam dialog virtual Pesona Antar Komunitas (PANTAS) Aceh Pro 4 RRI Samarinda, Sabtu, 21 Februari 2026. Meski tinggal di hunian yang terbatas, warga tetap menjalankan tradisi seperti Meugang atau penyembelihan daging menjelang puasa.

Kekuatan spiritual menjadi pilar utama bagi para penyintas di Aceh Barat dan Aceh Tamiang. Meskipun sebagian warga masih menempati tenda-tenda darurat, fasilitas ibadah tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah dan para donatur telah membangun musala kecil di blok-blok Huntara agar warga tetap bisa melaksanakan salat Tarawih berjamaah dengan khidmat.

"Tahun ini saf di masjid kami justru meningkat, dari tiga saf menjadi lima saf. Masyarakat lebih antusias beribadah di tengah cobaan ini," kata Ceh Hasan, narasumber yang juga seorang seniman Hikayat Aceh. Ia menambahkan bahwa kebersamaan saat sahur dan berbuka di lokasi Huntara menciptakan ikatan persaudaraan yang lebih kuat di antara sesama korban bencana.

Ketangguhan ini juga didukung oleh bantuan yang terus mengalir dari berbagai daerah, termasuk dari Kalimantan Timur. Bantuan berupa alat dapur, perangkat kebersihan, hingga mushaf Al-Qur'an menjadi modal penting bagi warga untuk bertahan. Kehadiran relawan di lapangan juga memberikan dukungan moral yang sangat berarti bagi para penyintas yang sedang berjuang melawan trauma.

Namun, tantangan alam belum sepenuhnya usai. Cuaca ekstrem terkadang membuat lumpur sisa banjir kembali menggenangi area Huntara. Kondisi tanah yang lembek saat hujan dan mengeras saat panas menjadi hambatan fisik harian yang harus dihadapi warga saat hendak menuju masjid atau melakukan aktivitas sahur.

Dengan segala keterbatasan yang ada, Ramadan di Huntara Aceh menjadi bukti nyata bahwa bencana tidak mampu merenggut iman. "Kami tabah menerima cobaan Allah, semoga ini menjadi hikmah agar Aceh lebih maju ke depan," ujar Khairul Asmadi dengan nada penuh optimisme.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....