Pengalaman Ramadan di Bali yang Sarat Toleransi

  • 23 Feb 2026 06:01 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Menjalani ibadah puasa di perantauan selalu menghadirkan cerita tersendiri. Di tengah keberagaman budaya dan keyakinan, Ramadan justru menjadi ruang untuk saling memahami dan menghormati.

Dalam program Kesah Ramadan RRI Pro 4 Samarinda, menghadirkan narasumber Moh. Faisal Fahmi, yang telah enam hingga tujuh tahun menetap di Bali. Pria asal Blitar, Jawa Timur itu membagikan pengalamannya menjalani Ramadan di tengah mayoritas masyarakat nonmuslim.

“Kalau dengar kata Ramadan di Bali, yang pertama terlintas di pikiran saya itu makanan, terutama takjil,” ujar Faisal. Menurutnya, Ramadan di Bali menghadirkan kekayaan kuliner dari berbagai daerah. Kampung Sunda, Kampung Jawa, hingga komunitas dari Banyuwangi menghadirkan hidangan khas yang jarang ditemui di hari biasa.

Ia mencontohkan keberadaan jaje Bali yang sekilas mirip cenil, serta laklak yang pengolahannya menyerupai serabi namun berukuran kecil. “Yang saya kangenin itu justru makanan yang hanya muncul saat Ramadan. Ada juga tutut dari Kampung Sunda, itu favorit saya,” katanya, dikutip Senin, 23 Februari 2026.

Di balik cerita kuliner, Faisal menekankan kuatnya toleransi di Bali. Meski jumlah masjid tidak sebanyak di daerah mayoritas muslim, masyarakat setempat menunjukkan sikap saling menghormati. “Teman-teman nonmuslim bahkan merasa tidak enak kalau makan di depan kami yang berpuasa. Itu jadi hal yang indah,” ujarnya.

Menariknya, saat Ramadan bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, umat muslim tetap diberi ruang untuk beribadah dengan penyesuaian tertentu. “Kami dianjurkan tarawih di rumah jika jauh dari masjid. Tidak pakai pengeras suara, tidak menyalakan kendaraan. Pecalang juga ikut membantu pengamanan. Itu bentuk toleransi yang nyata,” katanya.

Menurutnya, perbedaan justru menjadi tantangan sekaligus penguat makna ibadah. Alarm menjadi pengingat sahur dan berbuka karena tidak selalu terdengar azan. Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi kekhusyukan menjalankan puasa.

Faisal berharap suasana harmonis ini tetap terjaga. “Toleransi di Bali sudah indah sekali. Harapannya tetap seperti ini, jangan sampai ada ego yang merusak kebersamaan. Keberagaman itu nyata dan sebenarnya indah,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....