Wadai Khas Banjar Jadi Primadona Menu Berbuka

  • 21 Feb 2026 21:47 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ragam kudapan tradisional atau wadai khas Banjar kembali mendominasi meja hidangan berbuka puasa warga Samarinda selama bulan suci Ramadan. Kehadiran kue-kue legendaris seperti amparan tatak, bingka, hingga lempeng pisang tidak hanya sekadar menjadi pengganjal lapar, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya kuliner Banjar yang tetap eksis di tengah gempuran makanan modern.

Dalam dialog Pantas Banjar di RRI Samarinda pada hari Jumat, 20 Februari 2026, narasumber Acil Ewwi dan Acil Mila membagikan keseruan mereka dalam berburu dan mengolah takjil tradisional. Keduanya sepakat bahwa bulan puasa adalah waktu di mana "jiwa" kuliner Banjar keluar sepenuhnya, karena banyak jenis kue yang sulit ditemui di bulan-bulan biasa kini tersedia melimpah di setiap sudut pasar Ramadan.

Acil Mila menceritakan kegemarannya terhadap wadai yang memiliki cita rasa manis dan gurih secara bersamaan. Ia menyoroti bagaimana keunikan aroma menjadi kunci utama kelezatan kudapan tersebut. "Apalagi kalau wadai diberi daun pandan di bawahnya, itu harumnya sampai keluar, aromanya sangat menggugah selera saat kita hendak berbuka," ujar Acil Mila saat menjelaskan keistimewaan aroma alami dalam masakan Banjar.

Sementara itu, Acil Ewwi lebih menyoroti ragam gorengan dan kue basah yang menjadi favorit keluarga. Ia menyebutkan bahwa seleranya cukup konsisten dengan menu-menu yang hangat, seperti teh panas dan berbagai kudapan gorengan yang disiapkan sesaat sebelum azan Magrib berkumandang. Baginya, kehangatan hidangan menambah kenikmatan momen berbuka setelah seharian menahan haus.

Diskusi juga berkembang pada teknik pengolahan tradisional yang memerlukan ketelitian tinggi, seperti penggunaan daun pisang sebagai pembungkus. Menurut narasumber, penggunaan bahan alami bukan sekadar pembungkus, melainkan elemen penting untuk menciptakan aroma khas yang tidak bisa digantikan oleh kemasan plastik atau kertas modern. Teknik ini masih dipertahankan oleh banyak pedagang wadai di Samarinda.

Tak hanya soal rasa, Acil Mila juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan di lingkungan pasar Ramadan agar kenyamanan berbelanja takjil tetap terjaga. Ia berharap para pedagang dan pembeli sama-sama memiliki kesadaran tinggi dalam membuang sampah, mengingat antusiasme masyarakat yang sangat besar seringkali membuat area pasar menjadi sangat padat.

Sebagai penutup, kedua narasumber menekankan bahwa kebersamaan saat menikmati wadai Banjar adalah momen yang paling dirindukan setiap tahunnya. Dengan tetap menjaga tradisi kuliner ini, mereka berharap generasi muda tetap mengenal dan mencintai kekayaan rasa lokal yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Kalimantan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....