Beberapa Tradisi Suku Bugis Sambut Ramadan yang Perkuat Silaturahmi
- 20 Feb 2026 15:57 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat suku Bugis di berbagai wilayah, termasuk di perantauan seperti Samarinda, Kalimantan Timur, tetap teguh menjaga tradisi leluhur sebagai bentuk syukur dan persiapan spiritual. Berbagai ritual mulai dari ziarah kubur hingga pembagian takjil bergilir menjadi agenda rutin yang dilakukan untuk menyemarakkan suasana sebelum masa berpuasa tiba.
Indo Siti, salah satu narasumber dalam program Pantas Bugis di RRI Samarinda, Senin, 9 Februari 2026, mengungkapkan, persiapan menyambut Ramadan bukan sekadar menjaga kondisi fisik, melainkan juga menata kebersamaan antarwarga. Salah satu tradisi yang masih kental adalah gotong royong membersihkan masjid dan mengatur jadwal konsumsi untuk berbuka puasa bagi jamaah secara bergilir.
Mengenai sistem pembagian makanan, biasanya warga dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk menyediakan hidangan di masjid. "Biasanya itu bergilir, dibagi per tiga rumah atau per lima rumah untuk membawa takjil ke masjid agar bisa dinikmati bersama saat berbuka," ujar Indo Siti dalam siaran tersebut.
Selain urusan konsumsi, tradisi doa bersama atau doa selamat juga menjadi bagian tak terpisahkan. Warga biasanya berkumpul untuk membacakan doa tolak bala dan memohon kelancaran dalam menjalankan ibadah selama sebulan penuh. Hidangan khas seperti nasu likku (ayam lengkuas) dan nasi ketan sering kali menjadi menu utama dalam jamuan doa bersama tersebut.
| Baca juga: Tradisi yang Tetap Lestari di Kota Kembang |
Daeng Abdurrahim, seorang pendengar yang ikut bergabung dalam diskusi, menambahkan, tradisi di lingkungannya juga mencakup persiapan sahur yang matang. Ia menekankan pentingnya mengikuti pengumuman resmi pemerintah terkait penetapan awal Ramadan agar pelaksanaan ibadah bisa dilakukan secara serentak dan khidmat bersama keluarga.
Dalam aspek sosial, masyarakat juga diingatkan untuk memperbanyak sedekah sebelum memasuki bulan suci. Tradisi berbagi sembako kepada keluarga yang kurang mampu menjadi wujud nyata dari ajaran agama dan budaya Bugis yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. "Sedekah di awal Ramadan sangat membantu saudara kita yang kekurangan agar mereka bisa berpuasa dengan nyaman," kata Daeng Amai, narasumber lainnya.
Melalui berbagai tradisi ini, masyarakat suku Bugis berharap dapat mempertahankan nilai-nilai religius sekaligus mempererat tali persaudaraan atau silaturahmi. Semangat kebersamaan yang dibangun melalui ritual-ritual tersebut menjadi modal utama bagi mereka dalam menyambut bulan yang penuh berkah dengan hati yang bersih dan penuh suka cita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....