BMKG Samarinda Jelaskan Mengapa Awal Puasa Bisa Berbeda Antar Wilayah
- 18 Feb 2026 15:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Penjelasan astronomi menjadi bagian penting dalam kegiatan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Kantor Kemenag Samarinda, pada Selasa 17 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, BMKG memaparkan alasan ilmiah yang menyebabkan perbedaan awal puasa antara wilayah maupun negara.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, menjelaskan peredaran matahari dan bulan sangat dipengaruhi posisi lintang serta bujur suatu daerah. Perbedaan lokasi pengamat menyebabkan waktu terbenam matahari dan peluang terlihatnya hilal tidak sama.
“Kalau kita belajar astronomi, peredaran matahari dan bulan sangat tergantung posisi lintang bujur kita. Waktu magrib di Papua, Kaltim, Jakarta, sampai Arab tentu berbeda-beda,” katanya. Perbedaan waktu tersebut berdampak langsung pada kemungkinan terlihatnya hilal.
Riza menegaskan kunci utama visibilitas hilal adalah waktu terjadinya ijtimak atau konjungsi. Hilal berpotensi terlihat apabila peristiwa tersebut terjadi sebelum matahari terbenam di lokasi pengamatan. “Kata kuncinya hilal bisa terlihat apabila istimak terjadi sebelum matahari tenggelam,” ujar Riza. Jika konjungsi terjadi setelah matahari terbenam, maka posisi bulan masih berada di bawah ufuk sehingga tidak mungkin diamati.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi pada pengamatan kali ini karena posisi bulan berada di bawah ufuk saat matahari terbenam. Hal itu menyebabkan hilal tidak memiliki ketinggian positif untuk dapat dilihat oleh pengamat di bumi.
Riza juga memberikan contoh situasi berbeda, misalnya ketika konjungsi terjadi pada siang hari. Dalam kondisi tersebut, posisi bulan saat magrib akan berada di atas ufuk sehingga peluang terlihatnya hilal menjadi lebih besar.
Riza menambahkan dalam kajian keagamaan konsep ini dikenal dengan istilah matlak, yakni perbedaan wilayah pengamatan. Karena itu, perbedaan awal Ramadan antara negara atau kawasan tertentu merupakan konsekuensi dari perbedaan posisi geografis serta waktu terjadinya fenomena astronomi di masing-masing wilayah.
Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan proses penentuan awal bulan hijriah dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang terukur, dengan mempertimbangkan data astronomi, posisi pengamatan, serta hasil rukyat di berbagai daerah sebagai dasar pengambilan keputusan nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....