Keseimbangan Kesalehan Pribadi dan Sosial di Bulan Ramadan
- 08 Mar 2026 06:57 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ibadah puasa di bulan Ramadan tidak hanya menuntut kedekatan hamba dengan Allah Swt (hablum minallah), tetapi juga menuntut kepekaan terhadap sesama manusia (hablum minannas). Ustaz Didi Supriadi menegaskan, kesalehan sejati adalah ketika aspek pribadi dan sosial berjalan beriringan.
Dalam program Dialog Ramadan di Pro1 RRI Samarinda, Kamis, 19 Februari 2026, Ustaz Didi menyebut istilah "tauhid sosial" sebagai bentuk nyata dari keimanan. Seorang Muslim tidak boleh hanya sibuk dengan ritual pribadinya saja tanpa memedulikan kondisi lingkungan di sekitarnya.
"Kesalehan pribadi dan kesalehan sosialnya. Kalau saya sering mengatakan, tauhid kepada Allah dan tauhid sosialnya harus berjalan dua-duanya," ujarnya. Keseimbangan ini dianggap sebagai jalan menuju keberuntungan atau kemenangan yang dijanjikan Allah.
Ustaz Didi juga membedakan antara sosok yang sekadar saleh dengan sosok yang muslih. Seorang yang saleh hanya fokus pada kebaikan dirinya sendiri, sedangkan seorang muslih adalah mereka yang memberikan dampak positif dan kebaikan bagi orang lain.
"Kalau saleh saja ya semua orang bisa menjadi orang saleh, tetapi untuk menjadi muslih. Nah ini tidak semua orang bisa menjadi muslih orang yang memberikan kebaikan kepada orang lain," katanya. Menurutnya, menjadi muslih adalah tingkatan yang lebih tinggi bagi seorang mukmin.
Aplikasi dari kesalehan sosial ini bisa diwujudkan melalui berbagai amal jariah, seperti bersedekah makanan, membantu sahur, hingga kolaborasi dalam kebaikan. Ustaz Didi mengajak pendengar untuk melakukan investasi akhirat melalui bantuan kepada sesama di bulan suci ini.
Dengan menjalankan kedua aspek ini secara seimbang, umat Muslim diharapkan tidak hanya mendapatkan pahala ritual, tetapi juga mampu membangun tatanan masyarakat yang lebih harmonis dan penuh tolong-menolong.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....