Menanamkan Nilai Puasa pada Anak Disabilitas

  • 16 Feb 2026 09:34 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ibadah puasa merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, termasuk anak yang kelak akan beranjak balig. Pada anak disabilitas, proses pengenalan puasa memerlukan pendekatan yang lebih personal dan mempertimbangkan kesiapan individu.

Lina Oktaviani, dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kaltim menegaskan, tidak ada batas usia pasti untuk mulai mengajarkan puasa. “Sebenarnya tidak ada waktu yang ideal atau patokan usia tertentu, yang penting adalah kesiapan anak,” ujarnya dalam perbincangan dengan RRI Samarinda, dikutip Senin, 16 Februari 2026.

Menurut Lina, orang tua perlu memahami, pada anak berkebutuhan khusus terdapat dua jenis usia, yakni usia kronologis dan usia mental. Keduanya harus diperhatikan agar anak benar-benar siap secara psikologis dan emosional sebelum mulai berpuasa.

Ia juga menjelaskan, puasa merupakan konsep yang abstrak bagi anak, terlebih bagi anak dengan hambatan sensori atau spektrum autisme. Oleh karena itu, pengenalan puasa sebaiknya dilakukan secara bertahap, misalnya dimulai dari 30 menit, lalu meningkat menjadi beberapa jam hingga akhirnya mampu berpuasa penuh.

Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan karakter dan kemampuan masing-masing anak. “Anak-anak disabilitas itu unik, sama seperti anak non-disabilitas, sehingga metode yang digunakan pun berbeda-beda,” ucap Lina.

Khusus bagi anak dengan hambatan pendengaran seperti tunarungu atau hard of hearing (HOH), metode komunikasi dan pemahaman tentu berbeda. Orang tua memerlukan kesabaran ekstra dalam menanamkan nilai agama karena proses memahami konsep puasa membutuhkan usaha yang konsisten.

Lina juga mengingatkan agar orang tua tidak membandingkan anak dengan saudara atau anak lain. Menurutnya, pembelajaran puasa harus dilakukan dengan penuh empati agar anak memahami maknanya, bukan menjalankannya karena keterpaksaan.

Momentum puasa bahkan dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan positif, termasuk pengaturan pola makan. Dengan pengawasan dan dukungan keluarga yang kuat, anak disabilitas dapat belajar menjalankan ibadah puasa secara bertahap dan penuh makna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....