Psikolog Ungkap Cara Kenalkan Puasa Pada Anak

  • 03 Feb 2026 11:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Menjelang datangnya bulan Ramadan, sebagian orang tua kerap merasa khawatir saat mulai memperkenalkan ibadah puasa kepada anak. Proses pengenalan puasa perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak agar menjadi pengalaman yang menyenangkan serta tidak menimbulkan tekanan.

Psikolog anak dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Timur, Anang Arief Abdillah, mengatakan pengenalan puasa pada anak dapat dilakukan sejak dini, bahkan sejak usia 1,5 hingga 2 tahun. Namun, pada usia tersebut anak masih sebatas diperkenalkan pada aktivitas puasa, belum menjalankan puasa secara penuh.

“Pada usia dini, anak cukup dikenalkan pada konsep dan kegiatan puasa, bukan diwajibkan melaksanakannya. Pengenalan dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kesiapan anak,” kata Anang, Selasa 3 Februari 2026.

Menurutnya, puasa dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan menunda keinginan, membangun regulasi emosi, serta menanamkan nilai ibadah yang memiliki makna spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai tahapan perkembangan anak.

Anang menjelaskan, anak umumnya mulai dapat mencoba puasa pada usia sekitar empat tahun, dengan catatan kesiapan anak telah berkembang, seperti kedisiplinan, kepatuhan terhadap aturan, dan rasa tanggung jawab. Sementara itu, sebagian besar anak dinilai lebih siap menjalani puasa pada usia lima hingga tujuh tahun.

Agar anak siap menjalani puasa, orang tua dianjurkan menerapkan metode modeling, yaitu memberikan contoh secara langsung tentang pelaksanaan ibadah puasa yang baik dan benar. Selain itu, puasa juga dapat menjadi media pembelajaran bagi anak dalam mengelola emosi, sehingga peran orang tua yang tegas dalam aturan dan disiplin sangat diperlukan.

Ia menambahkan, orang tua tidak perlu khawatir jika anak beberapa kali merasa tidak kuat berpuasa, menangis, atau mengeluh. Hal tersebut merupakan bagian dari proses latihan dan pembelajaran anak.

“Anak bisa diajak berdiskusi bahwa menjalani puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, serta memperbanyak amal kebaikan,” ujar Anang.

Puasa, lanjutnya, perlu dipahami sebagai salah satu ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi, yang ditanamkan secara perlahan sejak usia dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....