Geliat Ramadan di Hunian Sementara, Bukti Ketangguhan Tradisi Masyarakat Aceh

  • 25 Feb 2026 13:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pelaksanaan ibadah Ramadan tahun ini di lokasi hunian sementara (Huntara) menjadi bukti nyata ketangguhan budaya masyarakat Aceh. Meski fisik bangunan rumah mereka telah tersapu banjir dan lumpur, fondasi adat dan spiritualitas yang tertanam sejak lama terbukti tidak goyah. Bagi para tokoh masyarakat, menjaga tradisi di tengah keterbatasan bukan sekadar rutinitas, melainkan mekanisme pemulihan jiwa yang paling efektif bagi para korban bencana.

Khairul Asmadi, salah satu tokoh yang aktif memantau kondisi sosial di Aceh Barat, menekankan bahwa spirit "Meugang" tetap menjadi denyut nadi masyarakat. Tradisi menyembelih ternak dan menikmati daging bersama keluarga menjelang puasa ini tetap diupayakan hadir, sekalipun di dalam tenda darurat. Menurutnya, kegembiraan kecil dari aroma masakan daging di Huntara mampu mengikis trauma mendalam yang dirasakan warga akibat kehilangan harta benda.

"Meskipun dalam kondisi musibah, tradisi Meugang tetap ada sebagai bentuk suka cita menyambut puasa. Paling tidak warga memiliki satu kilogram daging di rumahnya. Ini adalah cara kita merawat identitas dan mengobati trauma secara kolektif," ujar Khairul Asmadi saat berdiskusi mengenai ketahanan budaya warga terdampak dalam program Pantas Aceh Pro 4 RRI Samarinda, Sabtu, 21 Februari 2026. Baginya, daging Meugang adalah simbol kehormatan dan kebahagiaan yang tidak boleh hilang oleh bencana.

Kehidupan di Huntara juga memperlihatkan penguatan solidaritas sosial melalui tradisi membangunkan sahur. Jika di hari biasa warga melakukannya dengan pengeras suara masjid, di lokasi bencana, interaksi langsung antarwarga menjadi lebih intens. Para tokoh masyarakat melihat fenomena ini sebagai kembalinya nilai-nilai gotong royong murni, di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas keselamatan dan ibadah tetangganya di bilik sekat papan yang sempit.

Selain itu, tradisi lisan seperti Hikayat Aceh dan doa-doa puitis dalam bahasa daerah kembali menggema di sela-sela salat tarawih. Kesenian religius ini bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana komunikasi kepada Sang Pencipta untuk memohon perlindungan dari bencana di masa depan. Tokoh budaya setempat menilai bahwa melalui hikayat, warga dapat meluapkan emosi sedih sekaligus menguatkan iman secara bersama-sama dalam satu saf yang rapat.

Keterbatasan fasilitas fisik di Huntara justru memicu kreativitas warga dalam menjaga estetika Ramadan. Meskipun masjid lama mungkin masih menyisakan bekas lumpur, antusiasme warga untuk membersihkan tempat ibadah secara swadaya menunjukkan bahwa nilai kebersihan adalah bagian dari iman yang tak terpisahkan. Hal ini menjadi cerminan bahwa masyarakat Aceh tetap memprioritaskan kehormatan rumah Allah di atas kenyamanan tempat tinggal sementara mereka sendiri.

Terakhir, dukungan dari para donatur dan relawan luar daerah yang menghargai adat setempat sangat diapresiasi oleh para pemuka masyarakat. Bantuan yang datang tidak hanya berupa logistik dasar, tetapi juga perangkat ibadah dan kebutuhan tradisi. Sinergi antara bantuan material dan penghormatan terhadap nilai budaya ini dianggap sebagai kunci utama agar warga Aceh dapat segera bangkit dari keterpurukan dengan kepala tegak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....