Tanjung Verde Nyaris Menghentikan Sang Juara Dunia
- 04 Jul 2026 09:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Juara bertahan Argentina dipaksa mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya sebelum akhirnya menyingkirkan debutan Tanjung Verde dengan skor dramatis 3-2 setelah perpanjangan waktu pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026, Sabtu, 4 Juli 2026. Pertandingan di Miami Stadium tersebut menjadi salah satu duel paling menghibur sepanjang turnamen sekaligus mengantar Lionel Messi dan kolega melaju ke babak 16 besar menghadapi Mesir.
Laga ini menjadi panggung bersejarah bagi Lionel Messi. Kapten Argentina itu mencatatkan penampilan ke-30 di Piala Dunia, terbanyak sepanjang sejarah, melampaui seluruh pemain yang pernah tampil di turnamen terbesar sepak bola dunia.
Rekor itu semakin lengkap ketika Messi membuka keunggulan Argentina pada menit ke-29 melalui penyelesaian khasnya. Menerima umpan panjang akurat dari Lisandro Martinez, pemain Inter Miami itu mengontrol bola dengan sempurna sebelum mengangkat bola melewati Vozinha dari sudut sempit.
Gol tersebut sempat membuat publik mengira Argentina akan melaju tanpa hambatan. Namun, anggapan itu segera dipatahkan oleh semangat juang Tanjung Verde.
Debutan Piala Dunia itu tidak pernah berhenti menyerang. Setelah tampil lebih berani pada babak kedua, Deroy Duarte menyamakan kedudukan menjelang satu jam pertandingan lewat tembakan mendatar yang gagal dihentikan Emiliano Martinez.
Gol itu mengubah wajah pertandingan. Argentina yang sebelumnya mengendalikan permainan mulai kehilangan ritme, sementara Tanjung Verde semakin percaya diri menghadapi sang juara dunia.
Messi sebenarnya memiliki dua peluang emas untuk mengembalikan keunggulan. Namun, keduanya digagalkan kiper veteran Vozinha yang kembali tampil luar biasa seperti ketika menahan imbang Spanyol di fase grup.
Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan.
Argentina kembali memimpin hanya dua menit setelah extra time dimulai. Lisandro Martinez menyambar bola liar hasil sundulan Alexis Mac Allister dari sepak pojok Messi dan melepaskan tembakan keras ke atap gawang.
Namun sekali lagi Tanjung Verde menolak menyerah.
Pada menit ke-103, Sidny Cabral mencetak salah satu kandidat gol terbaik Piala Dunia 2026. Dari luar kotak penalti, ia melepaskan tendangan melengkung yang menghujam sudut atas gawang tanpa mampu dijangkau Emiliano Martinez.
Gol tersebut bukan hanya menyamakan kedudukan, tetapi juga memperlihatkan keberanian sebuah tim debutan yang sama sekali tidak gentar menghadapi juara bertahan.
Ketika pertandingan tampak akan ditentukan lewat adu penalti, Argentina akhirnya menemukan jalan keluar.
Sepak pojok Messi disambut sundulan Cristian Romero. Bola sebenarnya mengarah ke gawang sebelum mengenai Diney Borges dan berbelok masuk. Gol bunuh diri itulah yang memastikan kemenangan 3-2 bagi Argentina sekaligus mengakhiri perlawanan heroik Tanjung Verde.
Dari sisi permainan, kemenangan Argentina menyisakan sejumlah catatan penting. La Albiceleste memang berhasil lolos, tetapi pertahanan mereka kembali memperlihatkan kerentanan. Dua kali unggul, dua kali pula mereka kehilangan konsentrasi hingga lawan mampu menyamakan skor.
Di sisi lain, lini serang masih sangat bergantung kepada kreativitas Messi. Hampir seluruh peluang berbahaya Argentina lahir dari kaki sang kapten, baik melalui gol, sepak pojok, maupun bola mati.
Bagi Lionel Scaloni, pertandingan ke-100 sebagai pelatih Argentina tentu berakhir manis. Namun kemenangan ini juga menjadi pengingat bahwa jalan mempertahankan gelar juara dunia tidak akan mudah. Tim-tim yang di atas kertas lebih lemah kini semakin berani menekan dan memanfaatkan setiap celah yang ditinggalkan sang juara bertahan.
Sementara itu, Tanjung Verde mungkin meninggalkan Piala Dunia tanpa satu pun kemenangan, tetapi mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa hormat dunia.
Dalam debut pertamanya di putaran final, mereka mampu menahan Spanyol, bermain imbang dengan Uruguay dan Arab Saudi di fase grup, lalu memaksa Argentina bermain hingga babak tambahan sebelum akhirnya kalah secara dramatis.
Perjalanan mereka menjadi bukti bahwa sepak bola modern tidak lagi mengenal istilah tim kecil. Dengan organisasi permainan yang disiplin, keberanian menyerang, dan semangat pantang menyerah, Tanjung Verde telah menciptakan salah satu kisah paling indah di Piala Dunia FIFA 2026.
Kini Argentina bersiap menghadapi Mesir di babak 16 besar. Jika masih memperlihatkan celah yang sama di lini belakang, tantangan berikutnya bisa menjadi jauh lebih berat dibandingkan yang mereka alami saat menghadapi Tanjung Verde.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....